KRITIK ILMIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) atau Islamiyyat Al-Ma’rifat adalah sebuah gagasan yang timbul akibat adanya dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu dengan ‘tauhid’. Dua di antara pencetus Islamisasi ilmu pengetahuan ini adalah Ziauddin Sardar dan Ismail Raji al-Faruqi yang terkenal dengan istilah “gerakan Islamisasi ilmu”.[1]

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA



I.                   PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Dalam sumber-sumber Portugis, maupun Makassar telah diketahui, bahwa Islam telah sampai di Sulawesi Selatan sejak awal abad XVI, pada saat saudagar-saudagar bangsa Melayu beragama Islam, telah menetap di Makassar dan di tempat-tempat lainnya di pantai Sulawesi-Barat-Daya, yakni pada masa pemerintahan Raja I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yang kemudian dikenal sebagai Taunipallangga (memerintah tahun 1546-1565).

HADIS NABI DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Sunnah atau lebih dikenal dengan hadis, mempunyai sejarah yang unik dan panjang. Ia pernah mengalami masa transisi dari tradisi oral ke tradisi tulisan. Pengkompilasiannya pun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Persaingan politik antar kelompok Muslim dalam rangka perebutan kekuasaan juga ikut mewarnainya. Sampai pada akhir abad ke-9 M, usaha pengkodifikasian tersebut dapat menghasilkan beberapa koleksi besar (kitab hadis) yang dianggap autentik, di samping sejumlah besar koleksi hadis lainnya.

ISIM-ISIM YANG DINASHABKAN



بَابُ مَنْصُوبَاتِ الْأَسْمَاءِ

اَلْمَنْصُوبَاتُ خَمْسَةُ عَشَرَ, وَهِيَ الْمَفْعُولُ بِهِ, وَالْمَصْدَرُ, وَظَرْفُ الزَّمَانِ وَظَرْفُ الْمَكَانِ, وَالْحَالُ, وَالتَّمْيِيزُ, وَالْمُسْتَثْنَى, وَاسْمُ لَا, وَالْمُنَادَى, وَالْمَفْعُولُ مِنْ أَجْلِهِ, وَالْمَفْعُولُ مَعَهُ, وَخَبَرُ كَانَ وَأَخَوَاتِهَا, وَاسْمُ إِنَّ وَأَخَوَاتِهَا، وَالتَّابِعُ لِلْمَنْصُوبِ، وَهُوَ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءٍ: النَّعْتُ وَالْعَطْفُ وَالتَّوْكِيدُ وَالْبَدَلُ

ISIM-ISIM YANG DINASHABKAN

Isim–isim yang dinashabkan ada 15, yaitu: maf'ul bih (obyek), mashdar, dzorof zaman (keterangan waktu), dzorof makan (keterangan tempat), haal (keterangan keadaan), tamyiz, mustatsnaa (pengecualian), isim dari لَا, munadaa (kata seru), maf'ul min ajlihi/maf'ul li ajlihi, maf'ul ma'ahu, khobar bagi  كَانَ وَأَخَوَاتِهَا, isim  إِنَّ وَأَخَوَاتِهَا, dan tabi' (yang mengikuti) i'rabnya pada kata yang dinashobkan, yang terdiri dari 4 jenis yaitu: na'at (kata sifat), 'athof (kata sambung), taukid (penekanan/penegasan) dan badal (kata pengganti).