ANALISIS KEARIFAN LOKAL DALAM KAJIAN ANTROPOLOGI SUFISTIK


Wacana penguatan kearifan lokal dalam mengatasi pergeseran nilai-nilai budaya dan agama, bukanlah sesuatu hal yang baru dalam mengatasi problematika keseharian masyarakat. Indonesia sebagai salah satu negara terbesar yang memiliki warisan kebudayaan memiliki peran yang cukup penting dalam memindahkan unsur-unsur kebudayaan dari generasi ke generasi guna memelihara identitas dan melawan pengaruh westernisasi yang kian gencar menyelimuti segala aspek kehidupan masyarakat Indonesia.

Merujuk kembali pada periode awal abad ke-20, salah satu gejala intelektual yang paling menarik ialah besarnya minat untuk mempelajari agama, dan pada suatu ketika terdapat kesesuaian pendapat secara luas bahwa kepercayaan agama sebagaimana dipahami secara tradisional, secara mencolok merosot makna intrinsiknya bagi sebagian besar masyarakat modern. Hal ini dikarenakan semakin besarnya minat masyarakat mempelajari agama sejalan dengan usaha para penganut agama memodifikasi dan menyesuaikan kepercayaan dan pranata keagamaan dalam pancaran perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat modern.[1]

Di dalam mengkaji dan menganalisa sebuah aliran, paham, dan kepercayaan, salah satu ilmu yang mampu untuk memasukinya lebih mendalam dan lebih spesifik yakni Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untuk memahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku mereka untuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yang holistik dan komitmen antropologi akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnya antropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnya dengan berbagai budaya.

Agama dan kepercayaan merupakan dua hal yang melekat erat dalam diri manusia. Sifatnya sangat pribadi, terselubung dan kadang-kadang diliputi oleh hal-hal yang bernuansa mitologis. Kualitas etos seseorang amat ditentukan oleh nilai-nilai kepercayaan yang melekat pada dirinya, yang dalam bahasa agama, hal ini disebut sebagai aqidah. Orang bahkan rela mempertaruhkan hidupnya demi kepercayaan yang mereka yakini sebagai kebenaran.[2]

Dalam kaitannya dengan kepercayaan, manusia tidak dapat hidup tanpa mitologi atau sistem penjelasan tentang alam dan kehidupan yang penjelasan dan kebenarannya tidak perlu dipertanyakan lagi. Sehingga, pada urutannya, utuhnya mitologi akan menghasilkan utuhnya sistem kepercayaan, utuhnya sistem kepercayaan akan menghasilkan utuhnya sistem nilai, dan kemudian, utuhnya sistem nilai itu sendiri akan memberi manusia kejelasan tentang apa yang baik dan buruk (etika), dan mendasari seluruh kegiatannya dalam menciptakan peradaban.

Keaneka ragaman ini menjadi lebih nyata akibat usaha manusia itu sendiri untuk membuat agamanya menjadi lebih berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, dengan mengaitkannya dengan gejala-gejala yang nyata dan ada di sekitarnya. Maka tumbuhlah legenda-legenda dan mitos-mitos yang kesemuanya itu merupakan pranata penunjang kepercayaan alami manusia kepada Tuhan dan fungsionalisasi kepercayaan itu dalam masyarakat.[3]

Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatan antropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusia sebagai ‘khalifah’ (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnya posisi manusia dalam Islam. Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalan utama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya. Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulan keagamaannya.[4]

Dalam dunia pemikiran Islam, jenis penghayatan keagamaan yang bersifat batini berkembang menjadi ilmu tersendiri yang dinamakan tasawwuf. Dalam perkembangannya, terdapat dua konsep berbeda dalam menafsirkan makna dari tasawwuf itu sendiri. Kalangan pengamat mendeskripsikan tasawwuf dari sudut pandang persepsi mereka, sedangkan kaum sufi (pelaku) mendefinisikan tasawwuf sesuai pengalaman pribadi mereka masing-masing. Walaupun di dalam mendefinisikan tasawwuf, tiap kalangan berbeda, akan tetapi, secara inti, tujuan dari ajaran tasawwuf adalah persoalan penyucian jiwa (purification soul), mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, melihat-Nya dengan mata hati, dan bahkan merasakan persatuan dengan Allah Swt. (Union with God). Di dalam tasawwuf, konsep persatuan manusia dengan sang Pencipta (Allah Swt.) dirumuskan dalam tiga bentuk yakni ittihad, hulul, dan wahdat al-wujud.[5]



[1]Wacana ini dikemukakan oleh Roland Robertson yang menyatakan bahwa minat intelektual dalam kepercayaan agama merupakan bagian dari kaitan umum dengan masalah makna dan tujuan dalam kehidupan sosial, dasar-dasar etika, moral, nilai, dst. Lihat Roland Robertson,ed. AGAMA : Dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis (Cet. III; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 1993) h.xiii –xvii.

[2]A.S. Kambie, Akar Kenabian Sawerigading, Napak Tilas Jejak Ketuhanan Yang Maha Esa Dalam Kitab I La Galigo (Sebuah Kajian Hermeneutik), (Makassar: PARASUFIA, 2003) h. 6.

[3]Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Cet. IV; Jakarta: Paramadina, 2000), h. xxii.

[4]Sudjono, Pendekatan Antropologi dalam Kajian Islam, http://ahmadsamantho.wordpress.com/2008/03/22/antropologi-agama/

[5]Amsal Bakhtiar, Tasawwuf dan Gerakan Tarekat, Cet.I; Bandung: Angkasa, 2003). h.29-30.

Comments

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA