Posts

Showing posts from June, 2011

THE SCIENCE OF GEMSTONE THERAPY

Image
In this mechanical world, the life is full of stress and strained and these often disturb us. Where as every body desires peace and prosperity in life? There are various options such as allopathic medicine, homeopathic medicine, ayurvedic, holisticpathy, yoga, naturopathy etc. to help us. The gemstone therapy is one of the ancient & natural science followed in India million years ago but lost in transition, does now gearing up with better understanding. This therapy is harmless with no side effect, and may resolve many forthcoming issues for the control of problems aroused. The disappearance of this science in the last few centuries appears to be associated with two reasons: - the leaders in each society knew the concepts but did not pass on to others for one reason to other; - the cost of gems and their rare availability. However this science remained in the hands of limited people.  The gem therapy works on the concept of colors energy can be called as color therapy. The modern …

A Year of Love

The primary love stone is rose quartz. When we love ourselves it's amazing how much love we will receive from others. When we don't it's astonishing how little the love of others makes an impact.

Rose quartz helps to remove the energetic blockages in the heart chakra which keep us from truly loving ourselves, and also nurtures and replenishes our sense of self-love.

While rose quartz prepares the ground for the expression of love in the outer world, pink tourmaline activates that expression. This crystal also helps us to review and release past experiences when our attempts to love others seemed to fail. Its message is, "It's safe to love."

An often-unrecognized aspect of love is patience. Rhodonite, while good for any situation which threatens one's patience, is especially helpful for the day-to-day annoyances which two people who live together often face. When the first bloom of romance fades, and one is left facing the reality that their dearly bel…

Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?

Image
Kau ini bagaimana kau bilang aku merdeka kau memilihkan untukku segalanya

Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

Aku harus bagaimana,

Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai

Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana

Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku

Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh maju , aku mau maju kau selimpung kakiku

Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku takwa khutbah keagamaanmu membuatkku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisiplin kau menyontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?

Kau bilang Tuhan sangat dekat, Kau sendiri memanggil-manggil dengan pengeras suara setiap saat

Kau bilang suka damai, kau ajak aku setiap hari berti…

Bila kutitipkan

Image
Bila kutitipkan dukaku pada langit

Pasti lah langit memanggil mendung

Bila kutitipkan resahku pada angin

Pasti lah angin menyeru badai

Bila kutitipkan geramku pada laut

Pastilah laut menggiring gelombang

Bila kutitipkan dendamku pada gunung

Pasti lah gunung meluapkan api

Tapi, akan kusimpan sendiri mendung dukaku dalam langit dadaku

Kusimpan sendiri badai resahku dalam angin desahku

Kusimpan sendiri gelombang geramku dalam laut pahamku

Kusimpan sendiri api dendamku dalam gunung resamku

Kusimpan sendiri.

Aku tak bisa lagi menyanyi

Image
Bagiku kini tak ada lagi lirik dan musik yang menarik untuk kunyanyikan bersamamu atau sendiri

Burung-burung terlalu berisik mendendangkan apa saja setelah merdeka

Membuatku tak dapat lagi mengenal suaramu atau suaraku sendiri

Taman tempat kita istirahat becek darah yang seharusnya tak tumpah

Jalan-jalan tempat kita mendekatkan hati tertutup dihadang geram dan amarah

Malam-malam tempat kita menyembunyikan cinta telah dionarkan kobaran kebencian

Daging-daging yang selama ini kita manjakan pun ikut terpanggang api dendam

Udara di seputar kita menguapkan bau terlalu anyir dan lalat-lalat berpesta di mana-mana

Bagaimana aku bisa menyanyi

Aku tak mampu meski menyanyikan lagu duka

Aku tak bisa mengadukan duka pada duka

Mengeluhkan luka pada luka

Senar gitarku putus!

Dan aku tak yakin mampu menyambungnya lagi

Dan langit pun seolah sudah muak dengan lagu-lagu bumi yang sumbang

Maaf sayang aku tak bisa lagi menyanyi bersama atau sendiri

Entah, jika tiba-tiba Nabi Daud datang m…

Pengantar Filologi

Filologi adalah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas yang mencakup bidang kebahasaan, kesastraan dan kebudayaan (Baroroh-Baried, 1985: 1). Adapun definisi lain yang terdapat dalam KBBI, 2000: 277, filologi berarti ilmu tata bahasa, kebudayaan, pranata, dan sejarah suatu bangsa sebagaimana terdapat dalam bahan-bahan tertulis.

Secara etimologis, filologi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu philos yang berarti ‘cinta’ dan logos yang berarti ‘kata’. Dengan demikian, kata filologi membentuk arti ‘cinta kata’ atau ‘senang bertutur’ (Shipley dalam Baroroh-Baried, 1985: 1). Arti tersebut kemudian berkembang menjadi ‘senang belajar’, dan ‘senang kasustraan atau senang kebudayaan’ (Baroroh-Baried, 1985: 1).

A. Objek Penelitian Filologi

Objek penelitian filologi adalah naskah dan teks. Berikut ini naskah dan teks secara berurut-urut diuraikan.

1. Naskah

Naskah adalah karangan yang masih ditulis tangan (KBBI,jilid 2, 1995: 684). Pengertian lain te…

Urgensi Pengembangan Kajian Politik di Lingkungan PTAI (Alasan Mempelajari DDPI)

Paradigma pemikiran pentingnya pengembangan kajian politik di lingkungan PTAI dapat dikaitkan dengan berbagai isu dan fakta. Pertama, era globalisasi telah dan sedang berlangsung begitu cepatnya dan memasuki berbagai dimensi dan bidang kehidupan manusia, tak terkecuali bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi, tidak terkecuali pendidikan tinggi Islam (PTAI) yang di dalamnya sangat kuat warna politiknya; apakah praktek politik itu sendiri atau politik ekonomi dan politik hukum.

Kedua, isu-isu internasional seperti isu human right (hak asasi manusia) democracy (demokrasi), dan terrorism ( terorisme) lokal dan global suka tidak suka menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh kalangan pengelola dan insan perguruan tinggi agama Islam (PTAI) (Jamhari;2002:63-67). Sebagian dari isu itu ada yang secara langsung menjadi prasyarat hubungan internasional antar negara, terutama dalam konteks pembangunan dunia yang ter…

EKSISTENSI HUKUM ISLAM DAN PERMASALAHAN HUKUM KONTEMPORER

Pembahasan tentang eksistensi hukum Islam dan permasalahan hukum kontemporer di Indonesia, hal itu merupakan telaah kritis terhadap perkembagan hukum positif[1] di Indonesia. Hukum Islam sebagai hukum positif di Indonesia sepanjang sejarah telah memberikan kontribusi yang positif terhadap permasalahan hukum kontemporer di Indonesia. Dalam berbagai term hukum oleh para pakar, maka dapat dipahami bahwa hukum itu merupakan aspek budaya.[2] Atas dasar itu maka karakteristik[3] Hukum itu sendiri selalu berubah sesuai dengan perubahan masyarakat, bahwa sumber utama hukum nasional adalah hukum Islam, dimana hukum Islam dapat menjadi baku, penyaring, filter dan rujukan terhadap hukum-hukum lainnya. Dalam kaitan itu, Ahmad Rafiq menyatakan bahwa hukum Islam adalah hukum positif[4] umat Islam dan bersifat fleksibel. Karenanya dengan sifat fleksibelitas hukum Islam, secara empiris hukum Islam telah dapat merespon berbagai permasalahan hukum kontemporer di Indonesia. Dalam hal ini peranan hukum…

EKSISTENSI HUKUM ISLAM DAN PERMASALAHAN HUKUM KONTEMPORER

Eksistensi adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Ichtijanto SA. Teori eksistensi dalam kaitannya dengan hukum Islam adalah teori yang menerangkan tentang keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional Indonesia. Teori ini mengungkapkan pula bentuk eksistensi hukum Islam dalam hukum nasional, dengan penafsiran sebagai berikut:
Hukum Islam sebagai bagian integral dari hukum nasional Indonesia.
Hukum Islam adalah hukum yang mandiri dan diakui keberadannya, dan karena kekuatan dan wibawanya, maka hukum nasional memberikan status sebagai hukum nasional.
Norma hukum Islam berfungsi sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasional Indonesia.
Hukum Islam sebagai bahan utama dan unsur utama hukum nasional Indonesia[1]

Atas dasar itu, hukum Islam ada dalam hukum nasional dan mempunyai wibawa hukum sebagai hukum nasional. Keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional dibuktikan dengan adanya peraturan perundang-undangan, baik yang berbentuk hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis, serta praktik…

BERHALA DALAM AL-QUR'²N (Telaah dengan Pendekatan Tafsir Mauèûi)

Kesimpulan Berdasarkanpembahasan yang sifatnya sangat sederhana sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, dengan merujuk pendapat para mufassir, maka dapat disimpulkan bahwa makna berhala dalam al-Qur'àn dengan berbagai bentuknya memiliki multi makna, terkadang sangat jauh berbeda dengan maknanya secara tekstual. Hal ini sangat tergantung pada konteks ayat, dimana kata itu digunakan. Ada beberapa makna berhala yang dikemukakan penulis sebagai berikut: Dalam al-Qur'àn berhala atau patung disebut aê êanam atau al-aênam dalam bentuk jamak, adalah bentuk patung yang dipuja orang-orang Arab sebelum Islam (masa Jahiliah) dengan cara mempersembahkan kurban ke hadapan berhala dan memohon pertolongan dan petunjuk dalam suatu persoalan penting.Ada versi yang menyebutkan bahwa yang mula-mula menganjurkan menyembah Uzza adalah Zalim bin As'ad, seorang tokoh Quraisy pada masa pra-Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa Amr bin Luhay yang memperkenalkan…

BERHALA DALAM AL-QUR'²N (Telaah dengan Pendekatan Tafsir Mauèûi)

Beberapa Pengertian.

Berhala adalah setiap benda yang disembah dan dipuja oleh manusia dalam bentuk patung batu, kayu atau benda-benda lain dengan maksud untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Tuhan.

Dalam al-Qur'àn berhala atau patung disebut aê-êanam atau al-aênam dalam bentuk jamak.[1] Pada masa jahiliah atau sebelum Islam, banyak orang-orang Arab yang memuja berhala dengan cara mempersembahkan kurban kehadapan berhala dan memohon pertolongan dan petunjuk dalam suatu persoalan penting. Disebutkan bahwa disekitar Ka'bah menempatkan lebih dari 360 berhala dalam berbagai macam bentuk; setiap kabilah atau keluarga mempunyai berhala sendiri yang mereka sembah dan agungkan. Namun, disamping berhala kabilah biasanya mereka juga memiliki berhala-berhala keluarga yang disimpan di dalam rumah masing-masing dan disembah pada waktu-waktu dan kegiatan tertentu, seperti pada saat akan bepergian dan kembali dari bepergian.

Dari sekian banyak berhala, ada beberapa yang terkenal dan…

BERHALA DALAM AL-QUR'²N (Telaah dengan Pendekatan Tafsir Mauèûi) Chapter I

I. Pendahuluan

Ketika Nabi Muhammad saw., lahir (570 M), Mekah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya Ka'bah di tengah kota, Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka'bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Mekah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.[1]

Dia menyeru segenap manusia supaya mengesakan Tuhan, mantauhidkan Allah, pada zat-Nya dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya, suci dari pada segala perserupaan dan umpama, Dialah Rabbul 'Alamin, pemelihara segenap alam semesta. Segala sesuatu di dalam ujud ini tunduk kepada kuasa-Nya. Dia sendiri yang membuat. Dia yang mengatur menurut kesukaan-Nya.…

Contemporary Islam in Indonesia

 INTRODUCTION On the 29th of February 2004, thousands of robed members of Hizbut Tahrir marched through the streets of downtown Jakarta to mark the 80th anniversary of the fall of the caliphate – when Kemal Ataturk in the name of Turkish nationalism, having already abolished the Ottoman sultanate, deposed its last sultan as Caliph.
Hizbut Tahrir is a ‘new’ Islamic movement in Indonesia, one among many whose primary roots are planted within a wider Islamic ambience outside of Indonesia. Its call for the restoration of a universal caliphate and its rejection of nationalism and state power would have, in an earlier period under President Suharto, met with immediate suspicion and probable suppression. The movement is a good exemplar of the changing Indonesian Islamic community, pointing metaphorically in two directions: to the contemporary state of ferment in the Islamic world and to historical developments of the past century. Thus the present situation in Indonesia, as indeed within the …

Contemporary Islam in Indonesia

Historical Observations: Foundations of Mutuality and Difference
Hizbut Tahrir’s agenda is a reminder that the period of the 1920s was as tumultuous a time in Islamic history as the present. The end of the caliphate occurred in the same year as the conquest of the Hejaz (Mecca and Medina) by the Wahabis under al-Saud. These two events in 1924 produced reactions throughout the Islamic world including Indonesia.
Through much of the 19th century, there was an increasing movement of Indonesian pilgrims to Mecca, many of whom stayed on to form what was called the Jawi community. By the late 19th century this Jawi was one of the largest communities in Mecca with its own contingent of distinguished teachers, some of whom were granted the privilege of teaching within the Haram.
The Jawi community in Mecca was at the center of the activities of the tarekat (tariqa), the Sufi mystic orders, whose reach extended widely in Indonesia. Of particular importance was Shaykh Ahmad Khatib Sambas, a teach…

Contemporary Islam in Indonesia

Modernists and Traditionalists in Indonesia
Historically, mutuality, rather than dichotomous opposition, has characterized relations between ‘modernists’ and ‘traditionalists’ in Indonesia. The modernists, as represented by Muhammadiyah and drawing specifically on the ideas of Muhammad ‘Abduh that called for the scientific and intellectual strengthening of the Muslim community, have had an enormous influence through their own network of schools and universities but have also influenced the traditionalists to adopt new methods of teaching and new subjects of study within their own pesantren schooling system.
In regard to the interpretation of Islamic law, most modernists (despite ‘Abhub’s exhortations) and all traditionalists adhere to the Syafi’i mazhab. This marks a significant defining characteristic of Islam in Southeast Asia – not just Indonesia but also Malaysia and the Philippines. Modernists, however, claim a degree of interpretative independence (ijtihad) in arriving at decision…