BERHALA DALAM AL-QUR'²N (Telaah dengan Pendekatan Tafsir Mauèûi) Chapter I

I. Pendahuluan

Ketika Nabi Muhammad saw., lahir (570 M), Mekah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai menghubungkan Yaman di selatan dan Syria di utara. Dengan adanya Ka'bah di tengah kota, Mekah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka'bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal. Mekah kelihatan makmur dan kuat. Agama dan masyarakat Arab ketika itu mencerminkan realitas kesukuan masyarakat jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi.[1]

Dia menyeru segenap manusia supaya mengesakan Tuhan, mantauhidkan Allah, pada zat-Nya dan sifat-Nya serta perbuatan-Nya, suci dari pada segala perserupaan dan umpama, Dialah Rabbul 'Alamin, pemelihara segenap alam semesta. Segala sesuatu di dalam ujud ini tunduk kepada kuasa-Nya. Dia sendiri yang membuat. Dia yang mengatur menurut kesukaan-Nya. Segala yang ada di dalam alam, dari Dia datangnya dan kepadaNya kembali. Diketahuinya segenap sesuatu, besar dan kecil. Dia yang mentakdirkan segala-galanya. Dia amat dekat dan Dia mengabulkan permohonan hamba-Nya.[2]

Pelajaran inilah yang dibawa oleh Muhammad ketengah-tengah kaumnya, dengan inilah ditumbangkannya segala urat akar kemusyrikan dan persembahan kepada berhala. Dengan inilah dibersihkannya akal budi manusia dari pada wahm dan khayal yang tidak menentu, yang selama ini menjadi duri yang selalu menghambat langkah manusia mencerdaskan akal.




[1] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Cet. X; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000), h. 9.

[2] Lihat Hamka, Sejarah Umat Islam, (Cet. VII; Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 186. lihat QS. Al-Baqarah [2]: 186.

Comments

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA