BERHALA DALAM AL-QUR'²N (Telaah dengan Pendekatan Tafsir Mauèûi)

Beberapa Pengertian.

Berhala adalah setiap benda yang disembah dan dipuja oleh manusia dalam bentuk patung batu, kayu atau benda-benda lain dengan maksud untuk lebih mendekatkan diri mereka kepada Tuhan.

Dalam al-Qur'àn berhala atau patung disebut aê-êanam atau al-aênam dalam bentuk jamak.[1] Pada masa jahiliah atau sebelum Islam, banyak orang-orang Arab yang memuja berhala dengan cara mempersembahkan kurban kehadapan berhala dan memohon pertolongan dan petunjuk dalam suatu persoalan penting. Disebutkan bahwa disekitar Ka'bah menempatkan lebih dari 360 berhala dalam berbagai macam bentuk; setiap kabilah atau keluarga mempunyai berhala sendiri yang mereka sembah dan agungkan. Namun, disamping berhala kabilah biasanya mereka juga memiliki berhala-berhala keluarga yang disimpan di dalam rumah masing-masing dan disembah pada waktu-waktu dan kegiatan tertentu, seperti pada saat akan bepergian dan kembali dari bepergian.

Dari sekian banyak berhala, ada beberapa yang terkenal dan dipuja oleh kebanyakan orang Arab, yaitu berhala yang bernama Hubal, Lata, Uzza, dan Manata[2]. Berhala Hubal adalah berhala yang terbesar dan berbentuk manusia lelaki, ditempatkan di sebuah lubang dekat Ka'bah. Di lubang itu dikumpulkan barang-barang yang dipersembahkan.

Berhala Lata, Uzzah, dan Manata disebutkan dalam al-Qur'àn surah an-Najm ayat 19-20:



Terjemahnya:

"Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza. Dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)"



Berbeda-beda pendapat ulama tentang ketiga berhala tersebut di atas, baik bentuknya maupun suku apa yang menyembahnya. Salah satu pendapat yang menyatakan bahwa al-Làta adalah berhala yang disembah oleh suku Tsaqìf serta mayoritas masyarakat Arab. Ia adalah batu berbentuk segi empat dan berukir yang diletakkan disatu bangunan. Ada juga yang mengatakan berhala itu berbentuk manusia. Penamaannya dengan al-Làta boleh jadi sebagai bentuk feminim dari kata Allàh. Adapun al-'Uzzà maka sementara ulama menyatakan ia adalah berhala dari batu putih berbentuk manusia atau pohon yang mereka keramatkan, disekelilingnya ada bangunan dan tabir-tabir. Lokasinya di Nakhlah, satu tempat antara Mekah dan Tha'if. Berhala ini disembah oleh suku Ghaôafàn dan diagungkan juga oleh suku Quraisy.[3] Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada peristiwa Uhub, لنا العزى ولا عزى لكم (kami memiliki 'Uzzà, sedang kamu wahai kaum muslimin tidak memiliki 'Uzzà). Lalu, Rasulullah saw., bersabda: قولوا: الله مولانا ولا مولى لكم (katakanlah oleh kalian, Allah adalah pelindung kami dan tidak ada pelindung buat kalian).

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah ra., dia mengatakan bahwa Rasulullah telah bersabda:

من حلف فقال فى حلفه واللات والعزى فليقل لا إله إلاالله ومن قال لصاحبه تعال أقامرك فليتصدق

"Barang siapa yang pernah bersumpah kemudian mengatakan dalam sumpahnya itu 'demi al-Lata dan al-'Uzza, maka hendaklah dia mengatakan, "Tidak ada Tuhan selain Allah. 'Dan barangsiapa orang mengajak kawannya, 'Kemarilah, kita bermain undian, 'maka bersedekahlah"



Hadië ini dialamatkan kepada orang yang lidahnya terlanjur mengatakan hal itu, sebagaimana lidah-lidah mereka dulu telah terbiasa mengatakannya di masa jahiliah.

Adapun Manata terdapat di Musyallal di daerah Qadid yang terletak antara Mekah dan Madinah. Adalah Khuza'ah, Aus, dan Khazraj sangat mengagungkannya di masa jahiliah dan mereka mengucapkan talbiah dari sana ketika hendak berhaji menuju Ka'bah. Imam Bukhari telah meriwayatkan dari Aisyah keterangan seperti ini. Sebetulnya, di Jazirah Arab dan yang lainnya terdapat taghut-taghut lain yang senantiasa diagungkan oleh orang-orang Arab layaknya mereka mengagungkan Ka'bah, selain berhala-berhala yang telah ditegaskan melalui naê oleh kitab-Nya yang mulia. Itulah sebabnya Allah Ta'ala berfirman, "Maka apakah kamu menganggap al-Lata dan al-'Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian." Ketiga berhala ini disebutkan secara khusus, karena lebih populer dibanding dengan yang lainnya.

Rasulullah saw., sendiri sesungguhnya telah mengutus Mughirah bin Syu'bah dan Abu Sufyan bin Harb agar mendatangi patung al-Lata. Kemudian, merekapun menghancurkannya dan mendirikan sebuah masjid di Thaif pada tempat yang sebelumnya dipakai patung. Beliau pun telah mengutus Khalid bin Walid agar mendatangi berhala al-'Uzza. Dia pun menghancurkannya. Dan mengutus Abu Sufyan bin Harb agar mendatangi berhala Manata, yang ketika itu terletak di pinggir Musyallal di daerah Qadid, maka dia pun menghancurkannya. Terdapat pula patung-patung lainnya, seperti Dzil Khilshah, Qais, Riyam, Ridha, Dzil Ka'baat yang tersebar di beberapa daerah. Maka, Rasulullah pun mengutus sejumlah shahabatnya agar menghancurkan semuanya dan membersihkan jazirah Arab dari kotoran-kotorannya.[4]

Berhala lain yang juga disebutkan dalam as-Sirah an-Nabawiyah (peri kehidupan Nabi) oleh Ibnu Hisyam adalah berhala Isaf dan Nailah yang diletakkan dekat sumur Zamzam, dekat Ka'bah. Orang-orang Quraisy di masa jahiliah melakukan penyembelihan kurban di hadapan berhala Isaf dan Nailah. Dalam al-Qur'àn surah Nùé ayat 23, disebutkan beberapa berhala yang disembah umat Nabi Nùé as.

(#qä9$s%ur Ÿw ¨bâ‘x‹s? ö/ä3tGygÏ9#uä Ÿwur ¨bâ‘x‹s? #tŠur Ÿwur %Yæ#uqß™ Ÿwur šWqäótƒ s-qãètƒur #ZŽô£nSur ÇËÌÈ

Terjemahnya: "Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa', yaghuts, ya'uq dan nasr"



Berhala-berhala ini di antaranya masih dipuja oleh orang-orang Arab di masa jahiliah, berhala Wadd yang berbentuk lelaki dipuja oleh beberapa kabilah Yaman, di antaranya suku Kalb di Daumat al-Jandal. Berhala Suwa' yang berbentuk wanita adalah sembahan orang-orang Huzail. Yaghuts, berhala berbentuk singa, dipuja oleh kabilah Muzahhaj. Adapun Ya'uq yang berbentuk kuda disembah oleh kabilah Hamadan dan Nasr yang berbentuk burung rajawali disembah oleh orang-orang Himyar.[5]




[1] Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ikhtiar Baru van Hoeve, 1997), h. 247


[2] Ibid.


[3]Lihat M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur'an, (vol. 13 Jakarta: Lentera Hati, 2002), h. 418. lihat Muhammad Nasib Ar-Rifa'i, Taisiru al-Aliyyul Qadir li Ikhtishari Tafsir Ibnu Katsir, diterjemahkan oleh Syihabuddin, Kemudahan dari Allah Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir (Jilid 4; Jakarta: Gema Insani, 2004), h. 508.


[4] Ibid., h. 509.


[5] Ensiklopedi Islam, op.cit., h. 248.

Comments

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA