EKSISTENSI HUKUM ISLAM DAN PERMASALAHAN HUKUM KONTEMPORER

Eksistensi adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Ichtijanto SA. Teori eksistensi dalam kaitannya dengan hukum Islam adalah teori yang menerangkan tentang keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional Indonesia. Teori ini mengungkapkan pula bentuk eksistensi hukum Islam dalam hukum nasional, dengan penafsiran sebagai berikut:

Hukum Islam sebagai bagian integral dari hukum nasional Indonesia.
Hukum Islam adalah hukum yang mandiri dan diakui keberadannya, dan karena kekuatan dan wibawanya, maka hukum nasional memberikan status sebagai hukum nasional.
Norma hukum Islam berfungsi sebagai penyaring bahan-bahan hukum nasional Indonesia.
Hukum Islam sebagai bahan utama dan unsur utama hukum nasional Indonesia[1]

Atas dasar itu, hukum Islam ada dalam hukum nasional dan mempunyai wibawa hukum sebagai hukum nasional. Keberadaan hukum Islam dalam hukum nasional dibuktikan dengan adanya peraturan perundang-undangan, baik yang berbentuk hukum tertulis maupun hukum tidak tertulis, serta praktik ketatanegaraan dan sosial keagamaan bangsa Indonesia.

Selanjutnya, permasalahan hukum kontemporer kalau dikaitkan dengan Indonesia tidak lain adalah permasalahan hukum nasional Indonesia dewasa ini, dalam hal ini bagaimana hukum nasional Indonesia modern yang ingin diwujudkan. Hukum nasional Indonesia adalah hukum yang dibangun oleh warga negara Republik Indonesia sebagai pengganti hukum kolonial. Hukum nasional Indonesia tersebut sewajarnya sesuai dengan kesadaran hukum, cita-cita moral, cita-cita batin, dan norma yang hidup dalam masyarakat bangsa Indonesia ialah Pancasila sebagai yang tercantum dalalm alinea keempat pembukaan UUD 1945 dan pasal 29 ayat 1 yang menunjukkan bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai hukum dasar yang dijunjung tinggi dan dijadikan pedoman dalam bernegara.

Sejarah Masuknya Islam sebagai Sumber Hukum Positif Indonesia

Ulasan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia erat kaitannya dengan awal berlakunya hukum Islam di Indonesia dan teori-teori berlakunya hukum Islam. Pembahasan masuknya hukum Islam di Indonesia meliputi pembicaraan tentang sumber-sumber pembawa Islam pertama kali, serta waktu dan tempat kedatangannya. Berkaitan dengan hal ini, hasil seminar pada tahun 1963, tentang masuknya Islam di Indonesia, menyimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia untuk pertama kali pada abad pertama Hijriah atau abad ketujuh Masehi dan dibawa langsung oleh saudagar-saudagar dari Makkah dan Madinah yang sekaligus sebagai muballig.[2] Dengan masuknya Islam ke Indonesia, maka dalam praktek sehari-hari, masyarakat mulai melaksanakan ajaran dan aturan-aturan agama Islam.[3] Pendapat senada dikemukakan oleh Azyumardi Azra yang mengatakan bahwa salah satu teori tentang masuknya Islam ke Indonesia menyatakan, Islam masuk pertama kali di pesisir Aceh pada abad ke-1 H/7 M. pendukung teori ini, menurut Azyumardi Azra, diantaranya Syed Muhammad Naquib al-Attas dan beberapa sejarawan Nusantara seperti Hamka, A.Hasjmi, dan M. Yunus Jamil. Selain mereka, teori ini juga didukung oleh penulis-penulis asing seperti Niemann, De Holander, Keyzer Craw-Furd, dan Veth.[4]




[1] Ichtijanto, Hukum Islam dan Hukum Nasional (Jakarta: Ind-Hill Co, 1990), h. 86-87; dalam Hj. Andi Rasdiyanah, Problematika dan Kendala yang Dihadapi Hukum Islam dalam Upaya Transformasi ke dalam Hukum Nasional, (Makalah) disajikan pada seminar nasional dan reuni Ikatan Alumni IAIN Alauddin Komisariat Fakultas Syari'ah Ujung Pandang, tanggal 1-2 Maret 2006.

[2] Lihat. H. Wahiduddin Adams, dkk., Peradilan Agama di Indonesia: Sejarah Perkembangan Lembaga dan Proses Pembentukan Undang-Undangnya (Jakarta: Departemen Agama RI, 2000), h. 2.

[3] Ibid.

[4] Niemann dan Holander beranggapan bahwa Islam datang dari Hadramaut sebab Muslim Hadramaut penganut mazhab Syafi'i sebagaimana dianut oleh Muslim Nusantara. Teori ini dipegang juga oleh Keyzer, tetapi dengan menyebut Mesir (bukan Hadramaut) sebagai sumber datangnya Islam sebab Muslim Mesir penganut mazhab Syafi'i. sedangkan Veth hanya menyebut "orang-orang Arab" tanpa menyebut tempat asal mereka. Lihat Azyumardi Azra, Jaringan Utama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Mizan, 1994), h. 31.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA