Pengertian Konflik Sosial Dalam Tinjauan Agama

Struktur masyarakat Indonesia yang bersifat multidimensi merupakan masalah tersendiri bagi upaya dan proses integrasi. Dari perspektif sosiologis, secara etis, fenomena konflik sosial memiliki bobot ganda selain juga bersifat kontradiktif. Dari perspekif fungsional, konflik sosial sama sekali dihindari karena akan berbenturan dengan sistem mekanisme fungsi-fungsi organisme yang berlangsung secara linear dan alami. Sementara pada beberapa rumpun teori yang melandaskan dirinya pada wawasan Marxis dan teori kritis lainnya, memandang konflik sosial sebagai bentuk sinergi (kekuatan gabungan) yang harus dimiliki dan dipelihara untuk menjaga dinamisasi sistem sosial dan sekaligus sebagai kekuatan penjaga keseimbangan sosial.[1] Sementara bila dilihat dari sudut prilaku, keberadaan konflik sosial merupakan fitrah manusiawi yang merupakan bagian bawaan dan keberadaan manusia itu sendiri dalam hubungannya dengan lingkungan sosialnya.

Istilah lain yang kadangkala pengertiannya berhimpit dengan kata konflik adalah kata "kerusuhan". Kata kerusuhan itu sendiri terbentuk dari kata dasar "rusuh" yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti banyak banyak gangguan keamanan, kacau, dan ribut. Sedang kata kerusuhan berarti keadaan rusuh (tidak aman); keributan; kekacauan; dan huru-hara.[2]

Adapun kata "konflik" berarti percekcokan, perselisihan, pertentangan (pertentangan antara dua kekuatan, pertentangan dalam diri satu tokoh dan pertentangan antara dua tokoh.[3] Dari segi bahasa ini, dapat dipahami bahwa kerusuhan adalah kelanjutan dari satu konflik atau dengan kata lain konflik dapat berubah dan berkembang menjadi kerusuhan. Dalam penelitian ini yang dimaksud kerusuhan adalah segala macam bentuk konflik yang menimbulkan kekacauan dalam masyarakat. Dengan demikian, penggunaan kata kerusuhan dapat bermakna konflik dan sebaliknya.

Secara terminologi, konflik didefinisikan sebagai pertentangan yang bersifat langsung dan disadari antara individu-individu atau kelompok-kelompok untuk mencapai tujuan yang sama.[4] Dalam batasan ini, kekalahan pihak lawan dianggap sangat penting dalam mencapai tujuan. Dalam konflik, orientasi kea rah pihak lawan lebih penting daripada obyek yang hendak dicapai. Dalam kenyataan, karena berkembangnya rasa kebencian yang makin mendalam, pencapaian tujuan seringkali menjadi sekunder, sedangkan pihak lawan yang dihadapi jauh lebih penting.

Para peneliti konflik, seperti dikutip Rizal Panggabean, memberikan definisi yang beraneka ragam. Definisi Coser menekankan aspek prilaku konflik. Pengertian konflik yang difokuskan pada prilaku cukup popular di kalangan peneliti konflik dan di kalangan masyarakat pada umumnya. Di lain pihak, definisi Boulding menekankan situasi yang melatarbelangi konflik, seperti ketidakselarasan kepentingan dan tujuan. Ini menunjukkan bahwa kondisi-kondisi konflik adalah fokus penting lainnya dalam studi-studi konflik. Definisi yang diberikan Kriesberg menekankan keyakinan (belief), karena konflik terjadi manakala pihak-pihak meyakini bahwa mereka memiliki tujuan yang bertentangan satu sama lain. Akhirnya dalam definisi yang diajukan Pruitt dan Rubin menegaskan persepsi (perception) dan keyakinan (belief) mengenai ketidakselarasan kepentingan dan aspirasi.[5]

Masing-masing definisi di atas dapat digunakan karena mengandung kegunaan sendiri-sendiri. Tetapi, definisi-definisi tersebut juga dapat digunakan untuk kepentingan lain. Jika dirangkum, definisi-definisi tersebut menunjukkan beberapa komponen inti konflik yang dapat diperhatikan dan diamati. Tiga komponen konflik yang utama berdasarkan definisi-definisi itu adalah:

1. Kondisi-kondisi yang mendahui konflik

2. Prilaku konflik

3. Aspek-aspek kognitif dan afektif konflik.[6] Ketiga komponen ini dapat digambarkan dalam bentuk segitiga, sehingga menjadi "segitiga konflik" yang terdiri dari dan merangkai ketiga komponen tersebut.

[1]Fattah Muhammad Hattah, Faktor Penyebab dan Upaya Penanganan Konflik Sosial di Kabupaten Luwu, (Makassar: 2002), 7.

[2]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. VIII; Jakarta: Balai Pustaka, 1996), 855.

[3]Ibid, 518.

[4]Ahmad Fediyani Saifuddin, Konflik dan Integrasi: Perbedaan Faham dalam Agama Islam (Cet. I; Jakarta: CV Rajawali, 1986), 7.

[5]Rizal Panggabean, "Manajemen dan Resolusi Konflik", Makalah disampaikan dalam TOT Manajemen Efektif dan Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi (Yogyakarta, Juli 2004), 1.

[6] Ibid, 2.

Comments

Post a Comment