HADIS NABI DALAM BERBAGAI PERSPEKTIF



BAB I
PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Sunnah atau lebih dikenal dengan hadis, mempunyai sejarah yang unik dan panjang. Ia pernah mengalami masa transisi dari tradisi oral ke tradisi tulisan. Pengkompilasiannya pun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Persaingan politik antar kelompok Muslim dalam rangka perebutan kekuasaan juga ikut mewarnainya. Sampai pada akhir abad ke-9 M, usaha pengkodifikasian tersebut dapat menghasilkan beberapa koleksi besar (kitab hadis) yang dianggap autentik, di samping sejumlah besar koleksi hadis lainnya.

Seleksi dan pengeditan koleksi kitab hadis tersebut, menurut pandangan Mohammed Arkoun,[1] menimbulkan kontroversi berkepanjangan di antara tiga golongan Muslim besar, yakni; Sunni, Syi’i (Syi’ah), dan Khariji (Khawarij). Kelompok Sunni menganggap, kompilasi sahihayn dari Bukhari (w. 870 M) dan Muslim (w. 875 M) sebagai yang paling autentik. Syi’ah 12 (Isna ‘Asyariyah) mengklaim, hasil kompilasi Kulayni (w. 939 M) sebagai “suitable for the science of religion” dan dilengkapi juga dengan koleksi Ibn Babuyah (w. 991 M) dan al-Tusi (w. 1067 M). Sementara, Khawarij memakai koleksi Ibn Habib (tercatat akhir abad ke-8) yang disebut sebagai al-sahih al-rabi’ (The true one of spring).
Terdapat satu anggapan, bahwa perbedaan aqidah dalam aliran-aliran Islam berdampak atau bahkan merupakan sumber pada perbedaan hadis yang diakui oleh masing-masing kelompok. Kelompok Sunni[2] misalnya, hanya berpegang pada riwayat Sunni saja, sementara kelompok Syi’ah[3] hanya mengakui hadis-hadis riwayat kelompok Syi’ah saja. Demikian seterusnya.
Masing-masing kelompok cenderung egois dan hanya mementingkan kelompoknya. Lebih parah lagi, hadis-hadis yang ada banyak dibuat oleh kelompok tertentu demi kepentingan kelompoknya, bahkan tidak sedikit yang mendiskreditkan mazhab yang berseberangan. Dampak terbesar dari anggapan ini adalah, hadis-hadis yang ada tidak bisa dipertanggungjawabkan otentisitasnya karena dibuat/dipalsukan oleh mazhab-mazhab tertentu demi kepentingan mereka
Perbedaan konsepsi secara metodologis tentang hadis antara Sunni dan Syi’ah bergulir pada wilayah kajian epistimologi. Pilihan untuk menggunakan epistimologi dalam kajian ini karena epistemologi, sebagai suatu cabang filsafat yang membahas tentang asal, struktur, metode-metode, kesahihan, dan tujuan pengetahuan.[4] Epistemologi, juga merupakan sarana untuk mendekati masalah-masalah pokok berkaitan dengan dinamika ilmu pengetahuan yang menyangkut sumber, hakekat, validitas dan metodologi.[5]




B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang diangkat dalam tulisan ini adalah:
1.      Bagaimana hadis Nabi menurut perspektif Sunni dan Syi’ah?
2.      Bagaimana hadis Nabi menurut perspektif ahhl-Fiqh dan ahl-Hadis?
3.      Bagaimana hadis Nabi menurut perspektif Muslim Rasional dan Sufi?





















BAB II
PEMBAHASAN


A.      Hadis Nabi menurut perspektif Sunni dan Syi’ah
1.        Hadis Nabi menurut perspektif Sunni
a.         Sumber Hadis
Dalam tradisi Sunni, yang dimaksud dengan hadis ialah segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Hadis dalam pengertian ini oleh ulama hadis disinonimkan dengan istilah al-sunnah.[6] Dengan demikian, menurut umumnya jumhur ulama hadis, bentuk-bentuk hadis atau al-sunnah ialah segala berita berkenaan dengan; sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal Nabi Muhammad saw.
Dari definisi hadis yang ditetapkan Sunni di atas, memberikan batasan tentang segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad saw., sekaligus adanya anggapan bahwa wahyu telah terhenti setelah wafatnya Nabi Muhammad. Dengan demikian apapun yang bersumber dari Nabi dapat dijadikan dasar hukum dan sekaligus sumber ajaran Islam. Sebaliknya apapun yang tidak bersumber langsung dari Nabi bukan termasuk hadis, dan karenanya tidak wajib diikuti dan tidak dapat dijadikan dasar hukum apalagi dijadikan sebagai sumber ajaran Islam. Dengan demikian sumber utama yang dapat mengeluarkan hadis menurut Sunni hanya Nabi Muhammad saw.
b.        Hakekat Hadis
Pada dasarnya, hampir semua mazhab[7] dalam Islam, sepakat akan pentingnya peranan hadis[8] sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Otoritas Nabi saw dalam hal ini (selain al-Qur’an) tidaklah terbantahkan dan mendapat legitimasi melalui wahyu juga,[9] sehingga secara faktual, Nabi saw adalah manifestasi al-Qur’an yang pragmatis.[10] Dalam diskursus Islam, terdapat berbagai permasalahan yang tidak cukup dijelaskan hanya dengan mengacu kepada al-Qur’an, tetapi juga harus mengacu kepada hadis Nabi saw. Hal ini dikarenakan al-Qur’an lebih banyak menerangkan secara global. Sesuatu yang global inilah yang harus dijelaskan dan dijabarkan. Dan di sinilah hadis mempunyai fungsi menafsirkan yang mubham, memerinci yang mujmal, membatasi yang mutlak, mengkhususkan yang ‘am, dan menjelaskan hukum-hukum sasarannya bayan al-tafsir, bahkan hadis juga mengemukakan hukum-hukum yang belum dijelaskan oleh al-Qur’an (sunah pembentuk).[11] Pernyataan seperti ini, banyak ditegaskan oleh al-Qur’an, misalnya QS. al-Hasyr (57): 7, QS, al-Nahl (47): 80, QS. al-Ahzab (33): 21, dan lain sebagainya. Kenyataan ini menunjukkan betapa penting dan strategisnya posisi hadis dalam bangunan (pondasi) ajaran Islam. Sehingga, tidak berlebihan jika dikatakan (oleh sebagian ulama) bahwa al-Qur’an lebih membutuhkan hadis daripada sebaliknya.[12]
Pada dasarnya, ketika Nabi saw masih hidup fenomena hadis tidak begitu krusial dan pembicaraan mengenai perkatan, perbuatan, dan ketetapan Nabi saw pun sebagai hal yang biasa-biasa saja,[13] karena hadis sebagai sumber pedoman masyarakat muslim waktu itu lebih bersifat peneladanan langsung tanpa melibatkan rumusan-rumusan verbal (living tradition).[14] Para sahabat lebih berusaha untuk hidup sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi saw, sehingga diktum dan fatwa Nabi saw yang aktual seringkali terjalin secara halus dan tidak dapat dibedakan. Akan tetapi, setelah Nabi saw wafat, umat Islam mulai serius menyikapi hadis Nabi saw tersebut. Pembicaraan tentangnya menjadi sebuah fenomena yang dilakukan masyarakat muslim dengan sengaja dan penuh kesadaran. Karena, sebuah generasi baru sedang tumbuh dan secara otomatis membutuhkan suatu bimbingan dengan mempertanyakan perilaku Nabi saw.[15]
Dengan demikian, menurut Sunni hakekat hadis pada dasarnya adalah wahyu Allah yang diberikan melalui Nabi Muhammad saw berupa peneladanan langsung yang melibatkan rumusan-rumusan verbal (living tradition). Karena itulah, hadis mempunyai peranan yang sangat urgen ketika disandingkan dengan al-Qur’an. Keduanya menjadi sumber hukum yang harus diyakini oleh umat Islam.
c.         Verifikasi Otentisitas Hadis
Pengertian hadis sahih yang disepakati oleh mayoritas ulama hadis Sunni adalah mencakup sanad dan matan hadis. Kriteria yang menyatakan bahwa rangkaian periwayat dalam sanad harus bersambung dan seluruh periwayat harus adil dan dhabit adalah kriteria untuk kesahihan sanad, sedang keterhindaran dari syaz dan ‘illat, selain merupakan kriteria untuk kesahihan sanad, juga kriteria untuk kesahihan matan hadis.[16]
Definisi hadis sahih yang disepakati oleh ulama Sunni meliputi beberapa unsur. Di antara kriteria yang ditetapkan ulama untuk mendapatkan suatu hadis sahih adalah:
1)        Sanad bersambung;
2)        Seluruh periwayat dalam sanad bersifat adil;
3)        Seluruh periwayat dalam sanad bersifat dhabit;
4)        Sanad dan matan hadis terhindar dari syaz;
5)        Sanad dan matan hadis terhindar dari ‘illat.[17] Sedangkan dari segi matannya harus sesuai dengan al-Qur’an, sunnah yang sahih, tidak menyalahi fakta historis dan tidak bertentangan dengan akal dan panca indera.[18]
Langkah selanjutnya, hadis-hadis tersebut diklasifikasi dan dimasukkan dalam kategori-kategori tertentu. Misalnya dengan menggunakan ilmu Jarh wa al-Ta’dil yang melibatkan berbagai ilmu, hadis-hadis dapat dikelompokkan ke dalam berbagai kategori dengan tingkat kecermatan yang tinggi. Seseorang yang diterima atau ditolak hadisnya harus melalui seleksi dan evaluasi kritis terlebih dahulu. Demikianlah, kriteria-kriteria kesahihan hadis yang dibangun oleh ulama Sunni. Sekaligus menetapkan bahwa suatu hadis yang tidak memenuhi kelima unsur tersebut adalah dha’if dan tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum.
Dengan tidak mudahnya suatu informasi diterima sebagai suatu kebenaran sebagaimana ditunjukkan di atas dengan standar-standarnya, menunjukkan bahwa Islam bukan hanya mementingkan atau mewajibkan mencari ilmu saja, tetapi juga aspek epistemologinya (masalah kebenaran). Tidak dikesampingkannya aspek epistemologi dalam bangunan keilmuan Islam, terutama hadis telah menunjukkan bagaimana kejujuran intelektual dengan memegang pengetahuan lebih dari sesuatu yang lain, tetapi juga sebagai sesuatu yang dapat dinilai salah dan benar dengan pertanggungjawaban serentak pada tingkat individu dan kelompok, dipraktekkan. Semuanya adalah dalam rangka agar segala perilaku mendapat pengabsahan dan landasan dari otoritas yang memiliki kriteria yang tinggi sehingga kebaikan dunia dan akhirat dapat dicapai secara bersamaan atas dasar teladan dari Nabi. Dengan demikian keberadaan hadis sebagai sumber kedua setelah al-Qur’an telah memberi pengaruh yang besar pada seluruh aktivitas Muslim dalam mencari pijakan dan memberi teladan bagi kaum Muslim dalam bertindak.
2.        Hadis Nabi menurut perspektif Syi’ah
a.         Sumber Hadis
Hadis dalam tradisi Syi’ah yang mempunyai pengertian segala sesuatu yang disandarkan kepada yang ma’sum, Nabi saw dan Imam dua belas, baik itu berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan adalah sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an.[19] Syi’ah menjadikan imam seperti kedudukan Nabi Muhammad dalam menjelaskan al-Qur’an. Mereka juga berpandangan bahwa para periwayat mereka melarang mengamalkan zahir al-Qur’an karena mereka tidak berpedoman dalam syari’at kecuali dari para imam mereka. Mereka mengatakan bahwa imam mempunyai ilham yang sebanding dengan wahyu bagi Rasulullah saw.
Dari definisi hadis di atas, memberi kesimpulan bahwa sumber hadis bukan hanya Nabi Muhammad, melainkan setiap imam yang ma’shum juga dapat mengeluarkan hadis yang dapat dijadikan hujjah. Dengan demikian, Syi’ah juga mempunyai keyakinan tentang berlangsungnya wahyu pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.
b.        Hakekat Hadis
Menurut Syi’ah, substansi atau hakekat hadis mempunyai tiga macam: Pertama: Khabar dan riwayat yang mengandung petunjuk pembersihan jiwa, akhlak, nasehat dan cara-cara pengobatan penyakit hati. Dengan muatan berisi ancaman, dan dorongan. Atau yang berkaitan dengan tubuh, seperti kesehatan, penyakit, sakit dan pengobatan. Juga manfaat buah-buahan, tumbuh-tumbuhan, pepohonan, air dan batu. Di samping itu khabar tersebut mengandung do’a, zikir, dan keutamaan ayat-ayat. Serta semua hal yang disunnahkan, baik dalam pembicaraan, perbuatan, maupun sikap. Itu semua, menurut kaum Syi’ah, bisa dijadikan landasan untuk beramal ibadah. Dan tidak perlu mencari tahu apakah sanad dan matannya shahih atau tidak. Kecuali jika ada tanda-tanda yang menunjukkan kepalsuannya.
Kedua: Yang mengandung hukum syara’ parsial, taklifi atau wadl’i. Seperti taharah, berwudlu, cara shalat, zakat, khumus, jihad dan semua bagian muamalat, transaksi yang diperbolehkan. Juga tentang nikah, thalaq, warisan, hudud dan diyat. Semua khabar dan riwayat tersebut tidak boleh langsung dijalankan. Namun diberikan kepada faqih yang mujtahid untuk menterjemahkannya. Sedangkan orang awam harus mengikuti mujtahid marji’.
Ketiga: Khabar dan riwayat yang mengandung pokok-pokok aqidah, seperti pengitsbatan al-Khaliq swt., juga tentang hasyr, barzakh, sirâth, mîzân, hisâb dan lain-lain.
Jadi, pada hakekatnya hadis menurut Syi’ah adalah Khabar dan riwayat yang jika berkaitan dengan aqidah dan pokok agama mereka, seperti tauhid, ‘adl, nubuwwah, imâmah dan ma’ad. Jika khabar tersebut sesuai dengan dalil-dalil ‘aqli, urgensi, dan tanda-tanda yang qath’i, maka ia dapat dijalankan, dan tidak perlu menyelidiki sanad.
c.         Verifikasi Otentisitas Hadis
Dalam kaitannya dengan kesahihan hadis, para ulama Syi’ah dalam kajian sanad telah memberikan kriteria-kriteria sebagai periwayat hadis. Ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi sebagai seorang periwayat hadis untuk dapat diterima riwayatnya. Diantaranya adalah: 1) sanadnya bersambung kepada imam ma’sum tanpa terputus, 2) seluruh periwayat dalam sanad berasal dari kelompok Imamiyah dalam semua tingkatan, dan 3) seluruh periwayat dalam sanad bersifat ‘adil, dhabit.[20] Dengan demikian, hadis sahih menurut Syi’ah adalah, hadis yang memiliki standar periwayatan yang baik dari imam-imam di kalangan mereka yang ma’shum.[21]
Pengaruh Imamiyah di sini tampak pada pembatasan imam yang ma’shum dengan persyaratan periwayat harus dari kalangan Syi’ah Imamiyah. Jadi hadis tidak sampai pada tingkatan sahih jika para periwayatnya bukan dari Ja’fariyah Isna ‘Asyariyah dalam semua tingkatan.[22]
Berdasarkan pada pengertian di atas, ulama Syi’ah membatasi hadis sahih pada setiap hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad, Ali bin Abi Thalib dan Imam dua belas.[23] Suatu keterangan yang dapat dipetik dari pemahaman di atas adalah bahwa derajat para Imam sama dengan derajat Nabi saw dan itu juga berarti dalam periwayatan, segala yang disandarkan kepada Imam juga sama terhadap apa yang disandarkan kepada Nabi saw dalam hal kehujjahannya.[24]


B.       Hadis Nabi menurut perspektif ahl- Fiqh dan ahl-Hadis
1.        Hadis Nabi menurut perspektif ahl- Fiqh
Sedangkan pengertian hadis menurut disiplin ilmu ushul fiqh adalah ucapan-ucapan Nabi saw. yang berkaitan dengan hukum. Namun, bila ia mencakup perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum dinamakan sunnah. Dan pengertian hadis/sunnah menurut pandangan ulama ahli fiqh, disamping pengertian yang dikemukakan ulama ushul fiqh, juga dimaksudkan sebagai salah satu hukum taklifi yang mengandung pengertian “perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa”.
Terjadinya perbedaan pengertian tersebut di atas disebabkan perbedaan sudut pandang masing-masing terhadap hadis/sunnah. Ulama hadis memandang bahwa hadis maupun sunnah adalah hal yang satu dan tidak dapat dipisahkan antara keduanya, disamping mereka juga berpendapat bahwa Rasulullah saw. adalah sosok yang patut diteladani (uswatun hasanah), sehingga apapun yang berasal dari beliau dapat diterima sebagai hadis. Ulama ushul fiqh memandang bahwa hadis merupakan salah satu sumber atau dalil hukum serta sebagai dasar bagi para mujtahid dalam bidang hukum. Sedangkan ulama fiqh menempatkannya sebagai salah satu dari hukum taklifi yang lima, yaitu wajib, haram, makruh, mubah dan sunat, karena menurut mereka hadis adalah sifat syar’iyyah untuk perbuatan yang dituntut mengerjakannya akan tetapi tuntutan melaksanakannya tidaklah pasti, sehingga orang yang melaksanakannya diberi pahala dan tidak disiksa orang yang meninggalkannya.
Harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara hadis dan al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa wahyu al-Quran disusun langsung oleh Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril yang kemudian Nabi Muhammad saw. langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya dari generasi ke generasi. Redaksi al-Quran dapat dipastikan tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan secara mutawatir oleh sejumlah orang yang mustahil mereka sepakat berbohong. Atas dasar ini wahyu-wahyu al-Quran menjadi qath’i al-wurud.
Berbeda dengan hadis yang pada umumnya disampaikan oleh orang per orang dan itupun seringkali dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Disamping itu, diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa sahabat sudah ada yang menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi’in. ini menjadikan kedudukan hadis dari segi otentisitasnya adalah zhanni al-wurud.
2.        Hadis Nabi menurut perspektif ahl-Hadis
Secara bahasa, kata al-hadis berasal dari kata hadatsa – yahdutsu – hadtsan – haditsan dengan pengertian yang bermacam. Al-hadis dapat berarti al-jadid min al-asyya’ (sesuatu yang baru) sebagai lawan dari kata al-qadim (sesuatu yang sudah lama, kuno, klasik). Kata al-hadits dapat pula berarti al-qarib, yakni menunjukkan pada waktu yang dekat atau singkat. Al-hadis juga mempunyai makna al-khabar yang berarti ma yutahaddats bih wa yunqal (sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan, diberitakan dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain.
Definisi hadis atau sunnah dapat dibedakan menurut disiplin ilmunya. Menurut sebagian ulama hadis, pengertian sunnah sama dengan pengertian hadis, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., baik ucapan, perbuatan, sikap/ketetapan, sifatnya sebagai manusia biasa, dan akhlaknya apakah itu sebelum atau sesudah diangkatnya menjadi rasul. Berbeda dengan al-Thibby dan lainnya yang berpendapat bahwa hadis tidak hanya segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan dan ketetapan para sahabat dan tabi’in.

C.      Hadis Nabi menurut perspektif Muslim Rasional dan Sufi
1.        Hadis Nabi menurut perspektif muslim rasional
Bersama al-Qur’an, hadis menjadi point yang sensitif dalam kesadaran spiritual maupun intelektual muslim. Tidak saja karena ia menjadi sumber pokok ajaran Islam, tetapi juga sebagai tambang informasi bagi pembentukan budaya Islam, terutama sekali historiografi Islam yang cukup banyak merujuk pada hadis-hadis. Hadis menjadi semakin krusial ketika makin banyaknya masalah yang muncul, sementera Nabi dan sahabat telah banyak yang wafat. Ketika Nabi s.a.w. masih hidup persoalan dapat dipecahkan dengan otoritas al-Qur’an atau Nabi Muhammad sendiri.
Demikian pula pada masa sahabat, masyarakat dapat melihat praktek nabi yang dijalankan para sahabat. Tetapi setelah itu berbagai informasi tentang nabi menjadi sangat penting bagi kaum muslim. Itu sebabnya belakangan sangat banyak sekali muncul literatur hadis dalam berbagai bentuk dan jenisnya dengan muatan hadis-hadis yang cukup beragam.
Dalam kaitannya sebagai sumber pokok ajaran Islam, hadis pada umumnya lebih merupakan penafsiran kontekstual dan situasional atas ayat-ayat al-Qur’an dalam merespon pertanyaan para sahabat Nabi. Dengan demikian hadis merupakan interpretasi nabi saw yang dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi para sahabat dalam mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Karena kondisi sahabat dan latar belakang kehidupannya berbeda, maka petunjuk-petunjuk yang diberikan nabi berbeda pula. Pada sisi lain, para sahabat pun memberikan interpretasi yang berbeda terhadap hadis nabi. Dari sini, maka hadis pada umumnya bersifat temporal dan kontekstual.[25]
Situasi sosial budaya dan alam lingkungan semakin lama semakin terus berubah dan berkembang. Dengan semakin jauh terpisahnya hadis dari situasi sosial yang melahirkannya, maka sebagian hadis nabi terasa tidak komunikatif lagi dengan realitas kehidupan sosial saat ini. Karena itu pemahaman atas hadis nabi merupakan hal yang mendesak, tentu dengan acuan yang dapat dijadikan sebagai standarisasi dalam memahami hadis. Realitanya bahwa hadis nabi lebih banyak dipahami secara tekstual, bahkan belakangan gejala ini muncul di kalangan generasi muda Islam, tidak saja di Indonesia, tetapi juga di banyak negeri Islam lainnya.
Pendekatan ini terhadap sebahagian hadis Nabi merupakan satu keharusan, tidak selamanya mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan yang muncul belakangan, bahkan malah menjadi sesuatu yang kontradiktif sehingga memalingkan kepercayaan terhadap hadis Nabi. Karena pemahaman seperti ini maka sebagian sarjana-sarjana muslim lantas menyerang hadis yang tanpak kontradiktif dan tidak komunikatif dengan zaman  meskipun ulama hadis menyatakan bahwa hadis tersebut dilihat dari kaedah-kaedah ilmu hadis yang demikian ketat, validitasnya diakui dan makbul (shahih). Karena itu upaya atau pengkajian terhadap konteks-konteks hadis merupakan aspek yang sangat penting dalam menangkap makna hadis yang akan diamalkan. Sayangnya, menurut Afif Muhammad,[26] pendekatan kontekstual atas hadis Nabi saw, belum begitu memperoleh perhatian.
2.        Hadis Nabi menurut perspektif Sufi
Pandangan yang umum adalah kata itu berasal dari Suf (صوف), bahasa Arab untuk wol, merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asetik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol. Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa (صفا), yang berarti kemurnian.[27] Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. Allah swt berfirman dalam QS. An-Nisaa’ (4): 69
`tBur ÆìÏÜム©!$# tAqߧ9$#ur y7Í´¯»s9'ré'sù yìtB tûïÏ%©!$# zNyè÷Rr& ª!$# NÍköŽn=tã z`ÏiB z`¿ÍhŠÎ;¨Y9$# tûüÉ)ƒÏdÅ_Á9$#ur Ïä!#ypk9$#ur tûüÅsÎ=»¢Á9$#ur 4 z`Ý¡ymur y7Í´¯»s9'ré& $Z)ŠÏùu ÇÏÒÈ  
Terjemahnya:
Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.[28]
Bagi orang yang belum mengenal apa itu Ilmu Tasawwuf atau Sufi tentu akan merasa asing untuk keduanya, karena tidak tahu orang cendrung untuk menjauhi atau enggan untuk mempelajarinya bahkan sampai mengejeknya. Hal ini serupa dengan awal kedatangan Islam tempo dulu, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.: "Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing (orang-orang Islam)."[29] HR. Muslim dari Abi Hurairah.
Kaum Sufi bukanlah sekelompok aliran bid'ah yang ajarannya masih saja diperdebatkan, namun dalam memahami Ilmu kesufian hati perlu benar-benar bersih dan jeli untuk menangkap doktrin-doktrin yang diajarkan dalam sufi itu sendiri dengan catatan tidak melenceng dari Islam. Tanpa didampingi ilmu sebagai manusia terlalu gampang untuk mencoreng, mencela dan berprasangka buruk terhadap sesama. Dalam sebuah hadits Nabi Saw.: "Hati-hatilah kalian terhadap prasangka, karena sesungguhnya prasangka itu merupakan perkataan yang paling dusta."[30] HR. Bukhari & Muslim.
Ilmu kesufian atau Ilmu Tasawwuf adalah ilmu yang didasari oleh al-Qur'an dan Hadits dengan tujuan utamanya amar ma'ruf nahi munkar. Sejak jaman sahabat Nabi Saw. tanda-tanda sufi dan ilmu kesufian sudah ada, namun nama sufi dan ilmu tersebut belum muncul, sebagaimana ilmu-ilmu lain seperti Ilmu Hadits, Ilmu Kalam, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqh dan lain sebagainya. Barulah pada tahun 150 H atau abad ke-8 M Ilmu Sufi atau Ilmu Tasawwuf ini berdiri sebagai ilmu yang berdiri sendiri yang bersifat Keruhanian. Kontribusi Ilmu Tasawwuf ini banyak dibukukan oleh kalangan orang-orang Sufi sendiri seperti Hasan al-Basri, Abu Hasyim Shufi al-Kufi, al-Hallaj bin Muhammad al-Baidhawi, Sufyan ibn Sa'id ats-Tsauri, Abu Sulaiman ad-Darani, Abu Hafs al-Haddad, Sahl at-Tustari, al-Qusyairi, ad-Dailami, Yusuf ibn Asybat, Basyir al-Haris, as-Suhrawardi, Ain Qudhat al-Hamadhani dan masih banyak yang lainnya hingga kini terus berkembang.

BAB III
KESIMPULAN

Dalam tradisi Sunni, yang dimaksud dengan hadis ialah segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw. Hadis dalam pengertian ini oleh ulama hadis disinonimkan dengan istilah al-sunnah. Dengan demikian, menurut umumnya jumhur ulama hadis, bentuk-bentuk hadis atau al-sunnah ialah segala berita berkenaan dengan; sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal Nabi Muhammad saw.
Hadis dalam tradisi Syi’ah yang mempunyai pengertian segala sesuatu yang disandarkan kepada yang ma’sum, Nabi saw dan Imam dua belas, baik itu berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan adalah sumber hukum yang kedua setelah al-Qur’an. Syi’ah menjadikan imam seperti kedudukan Nabi Muhammad dalam menjelaskan al-Qur’an. Mereka juga berpandangan bahwa para periwayat mereka melarang mengamalkan zahir al-Qur’an karena mereka tidak berpedoman dalam syari’at kecuali dari para imam mereka. Mereka mengatakan bahwa imam mempunyai ilham yang sebanding dengan wahyu bagi Rasulullah saw.
Sedangkan pengertian hadis menurut disiplin ilmu ushul fiqh adalah ucapan-ucapan Nabi saw. yang berkaitan dengan hukum. Namun, bila ia mencakup perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum dinamakan sunnah. Dan pengertian hadis/sunnah menurut pandangan ulama ahli fiqh, disamping pengertian yang dikemukakan ulama ushul fiqh, juga dimaksudkan sebagai salah satu hukum taklifi yang mengandung pengertian “perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa”.
Menurut sebagian ulama hadis, pengertian sunnah sama dengan pengertian hadis, yakni segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., baik ucapan, perbuatan, sikap/ketetapan, sifatnya sebagai manusia biasa, dan akhlaknya apakah itu sebelum atau sesudah diangkatnya menjadi rasul. Berbeda dengan al-Thibby dan lainnya yang berpendapat bahwa hadis tidak hanya segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., akan tetapi termasuk perkataan, perbuatan dan ketetapan para sahabat dan tabi’in.
Dalam kaitannya sebagai sumber pokok ajaran Islam, hadis pada umumnya lebih merupakan penafsiran kontekstual dan situasional atas ayat-ayat al-Qur’an dalam merespon pertanyaan para sahabat Nabi. Dengan demikian hadis merupakan interpretasi nabi saw yang dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi para sahabat dalam mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an. Karena kondisi sahabat dan latar belakang kehidupannya berbeda, maka petunjuk-petunjuk yang diberikan nabi berbeda pula. Pada sisi lain, para sahabat pun memberikan interpretasi yang berbeda terhadap hadis nabi. Dari sini, maka hadis pada umumnya bersifat temporal dan kontekstual.
Situasi sosial budaya dan alam lingkungan semakin lama semakin terus berubah dan berkembang. Dengan semakin jauh terpisahnya hadis dari situasi sosial yang melahirkannya, maka sebagian hadis nabi terasa tidak komunikatif lagi dengan realitas kehidupan sosial saat ini.









DAFTAR PUSTAKA


Abbas Mutawali Hammadah, Sunah Nabi Kedudukannya Menurut al-Qur’an, Terj. Abdussalam (Bandung: Gema Risalah Press, 1997)
Abu Bakar ibn Ahmad ibn Sabit al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘ilm al-Riwayah, (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, t.th.)
Abu Ishaq Ibrahim ibn Musa al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah, juz IV, (Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, t.th.)
al- Syafi’i, al-Umm, jilid VII (Beirut: Dar al-Fikr, tth.)
Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis &Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997)
Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 1994)
Hasan Amin, Dairat al-Ma’arif al-Islamiyyah al-Syi’iyyah, juz 11, jilid 3 (Beirut: Dar al-Ta’aruf, 1971)
Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasit (Kairo: t.tp., 1972)
Izuddin ibn al-Asir, Usd al-Gabah Fi Ma’rifat al-Sahabat, Jilid III (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, 1386 H.)
Ja’far Subhani, Ushul al-Hadis wa Ahkamuhu fi ‘ilmi al-Dirayah (Qumm, Maktabah al-Tauhid, t.th)
Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990)
M. Ajaj al-Khatib, Usul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989)
M.H. Thabathaba’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989)
Moh. Amin, Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta: INIS, 1991)
Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers terj. Dan ed. Robert D. Lee (Colorado: Westview Press, Inc., 1994)
Muhammad Tijani al-Samawi, Syi’ah: Pembela Sunnah Nabi, terj. Wahyul Mimbar (Iran: Muassah ‘an Sariyan, 2000)
Muhamad Mustafa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999)
Muhamad Abu Zahra’, al-Imam al-Sadiq H}ayatuhu wa ‘As}ruhu wa Fiqhuhu (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.)
Muhammad ‘Abd al-’azim al-Zarqani, Syarh al-Zarqani ‘ala Muwatta’ al-Imam Malik (Beirut: Dar al-Fikr, 1936)
Mustafaal-Siba’i, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991)
Mustafa al-Siba’i, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami (t.t.: al-Dar al-Qawmiyyah, 1966)
Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunah (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2000)
Nur al-Din al-’Itr, al-Madkhal ila ‘Ulum al-Hadis (Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-’Ilmiyyah, 1972)
Rofiq Nurhadi, “Larangan Penulisan Hadis dan Implikasinya Terhadap Transformasi Hadis Pada Masa Nabi” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. II, No. 2, Januari, 2002
Subhi al-Salih, Ulum al-Hadis wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin, 1998)
Sa’dullah Al-Sa’di, Hadis-Hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996)
Salah al-Din al-Idlibi, Manhaj Naqd al-Matn ‘ind ‘Ulama al-Hadis (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadida, 1983)
Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Epistemologi dan Logika: Studi Orientasi Filsafat Ilmu Pengetahuan (Bandung: Remaja Karya, 1986)
Yusuf al-Qardawi, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani (Jakarta: Rabbani Press, 1997)


[1]Mohammed Arkoun, Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers terj. Dan ed. Robert D. Lee (Colorado: Westview Press, Inc., 1994), h. 45.
[2]Sunni adalah (kelompok moderat) antara dua golongan pecahan pendukung ‘Ali bin Abi Talib, yaitu Syi’ah dan Khawarij yang sama-sama ekstrem (Syi’ah ekstrem kanan dan Khawarij ekstrem kiri), maka di antara kedua sekte tersebut adalah Sunni. Sa’dullah Al-Sa’di, Hadis-Hadis Sekte (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996), h. 63.
[3]Syi’ah, secara etimologi kata ini berasal dari Sya’a, yasyi’u, syi’ah yang artinya sahabat, penolong, atau pembela. Lihat Ibrahim Anis, al-Mu’jam al-Wasit (Kairo: t.tp., 1972), h. 503. Adapun secara terminologi, Syi’ah berarti suatu mazhab umat Islam yang mengikuti imam 12 dari keluarga Rasulullah SAW melalui ‘Ali bin Abi Talib dan anak-anaknya dalam semua urusan ibadah dan mu’amalah. Muhammad Tijani al-Samawi, Syi’ah: Pembela Sunnah Nabi, terj. Wahyul Mimbar (Iran: Muassah ‘an Sariyan, 2000), h. 10.
[4]Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Epistemologi dan Logika: Studi Orientasi Filsafat Ilmu Pengetahuan (Bandung: Remaja Karya, 1986), hlm. 7
[5]Jujun S. Suryasumantri, Filsafat Ilmu sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990), h. 35.
[6]Mustafa al-Siba’I, al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami (t.t.: al-Dar al-Qawmiyyah, 1966), h. 53. sebagian ulama membedakan pengertian hadis dengan al-sunnah. Sufyan al-Sauri dikenal sebagai imam fi al-hadis dan bukan imam fi al-sunnah, al-Awza’I dikenal sebaliknya, sedang Malik ibn Anas dikenal sebagai imam fi al-hadis wa al-sunnah, dan ada ulama yang menyatakan, pengertian hadis lebih umum daripada sunnah, dan ada juga ulama yang berpendapat sebaliknya. Di samping itu ada ulama yang berpendapat, hadis berisi petunjuk Nabi untuk tujuan praktis, sedang sunnah merupakan hukum tingkah laku, baik terjadi sekali saja maupun terjadi berulang kali, baik dilakukan oleh Nabi, sahabat, tabi’in, maupun ulama pada umumnya. Muhammad ‘Abd al-’azim al-Zarqani, Syarh al-Zarqani ‘ala Muwatta’ al-Imam Malik (Beirut: Dar al-Fikr, 1936), h. 3; Abu Ishaq Ibrahim ibn Musa al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Usul al-Syari’ah, juz IV, (Mesir: al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, t.th.), h. 3-7; Fazlur Rahman, Islam (Chicago: University of Chicago Press, 1979), h. 53-58.
[7]Dikatakan hampir semua mazhab, karena ada sebagian kecil umat Islam yang tidak mempercayai dan menolaknya sebagai sumber ajaran Islam. Mereka inilah yang dinamakan Munkir al-Sunnah. Lihat Mustafa al-Siba’i, Sunah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam; Sebuah Pembelaan Kaum Sunni, Terj. Nurcholis Madjid (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991), h. 122. Muhamad Mustafa Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Terj. Mustafa Ya’qub (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), h. 46-50.
[8]Penggunaan kata hadis dalam proposal ini adalah identik dengan sunah yaitu informasi yang dinisbatkan kepada Nabi SAW, baik berbentuk perkataan, perbuatan, taqrir, maupun sifat khalqiyah/khuluqiyah. Antara keduanya pada hakikatnya sama. Lihat Subhi al-Salih, Ulum al-Hadis wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Ilmi li al-Malayin, 1998), h. 6.
[9]Dalam sejumlah ayat al-Qur’an, umat Islam diperintahkan untuk mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. QS. Ali Imran (3): 32 dan 132, QS. Al-Hasyr (5): 93, QS. Al-Nisa’ (4): 193. Di sisi lain, keberadaan Muhamad SAW sebagai penyampai apa yang diturunkan Allah SWT kepada umat manusia QS. Al-Hasyr (5): 67 ini, mestinya tidaklah dipahami sebagaimana petugas pos yang hanya mementingkan sesampainya surat ke alamat yang dituju tanpa tahu dan peduli isinya. Moh. Amin, Ijtihad Ibnu Taimiyah dalam Bidang Fikih Islam (Jakarta: INIS, 1991), h. 24.
[10]Aktualisasi prinsip-prinsip dasar al-Qur’an yang bersifat teoritik dioperasionalisasikan oleh Muhamad SAW melalui peneladanan. Lihat Yusuf al-Qardawi, al-Qur’an dan al-Sunnah, Terj. Bahrudin Fanani (Jakarta: Rabbani Press, 1997), h. 61.
[11]Tentunya, di samping ketentuan-ketentuan hadis Nabi SAW yang hanya mengkonfirmasi dan mengulangi pernyataan al-Qur’an (bayan al-ta’kid). Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunah (Semarang: CV. Aneka Ilmu, 2000), h. 86. Mustafa al-Siba’i, Sunah dan Peranannya…, h. 3-7. Lihat juga Abbas Mutawali Hammadah, Sunah Nabi Kedudukannya Menurut al-Qur’an, Terj. Abdussalam (Bandung: Gema Risalah Press, 1997), h. 215.
[12]Perbedaan antara keduanya hanyalah pada tingkat otentitasnya, tidak pada substansinya. Karenanya, hadis disebut juga dengan wahyu ghairu matluw. Lihat al- Syafi’i, al-Umm, jilid VII (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), h. 271.
[13]Di samping, tidak adanya perintah secara resmi dari Nabi SAW untuk menghimpun dan menulis segala aspek kehidupannya sebagaimana al-Qur’an. Rofiq Nurhadi, “Larangan Penulisan Hadis dan Implikasinya Terhadap Transformasi Hadis Pada Masa Nabi” dalam Jurnal Studi Ilmu-Ilmu al-Qur’an dan Hadis, Vol. II, No. 2, Januari, 2002, h. 68.
[14]Sekalipun pada masa ini hafalan dan peneladanan lebih dikedepankan, tidak berarti tradisi penulisan hadis Nabi SAW tidak ada sama sekali. Ada beberapa bukti tentang adanya tradisi penulisan hadis. Di antaranya, “al-Sahifah al-Sadiqah” milik Abdullah bin Amr bin ‘As, yang memuat sekitar seribu hadis, Lihat Izuddin ibn al-Asir, Usd al-Gabah Fi Ma’rifat al-Sahabat, Jilid III (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, 1386 H.), h. 233.
[15]Dengan kata lain, formalisasi hadis merupakan konsekuensi logis dari perkembangan orientasi praktis keagamaan di kalangan komunitas Islam yang sedang tumbuh. Fazlur Rahman, Islam, Terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 1994), h. 69.
[16]Nur al-Din al-’Itr, al-Madkhal ila ‘Ulum al-Hadis (Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-’Ilmiyyah, 1972), h. 15
[17]M. Ajaj al-Khatib, Usul al-Hadis ‘Ulumuhu wa Mustalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), h. 250.
[18]Salah al-Din al-Idlibi, Manhaj Naqd al-Matn ‘ind ‘Ulama al-Hadis (Beirut: Dar al-Afaq al-Jadida, 1983), h. 238
[19]Hasan Amin, Dairat al-Ma’arif al-Islamiyyah al-Syi’iyyah, juz 11, jilid 3 (Beirut: Dar al-Ta’aruf, 1971), h. 117.
[20]Abu Zahrah mengutip pendapat Syaikh Hasan Zaynuddin dalam kitabnya Ma’alim al-Din, menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung dengan yang ma’sum, diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil dan dabit pada seluruh tingkatannya. Lihat Muhamad Abu Zahra’, al-Imam al-Sadiq Hayatuhu wa ‘Asruhu wa Fiqhuhu (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.), h. 425-426.
[21]Ibid.
[22]Ali Ahmad al-Salus, Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah; Studi Perbandingan Hadis & Fiqih, (Jakarta: Pustaka al-Kausar, 1997), h. 127.
[23]Jelas definisi ini berbeda dengan definisi hadis dari kalanggan sunni yang hanya menyandarkan segala hal yang bersumber dari Nabi Saw, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan. Menurut M. H. Thabathaba’i, sekalipun hadis itu disandarkan kepada Nabi SAW dan Imam, namun keduanya dibedakan dengan jelas, yang keduanya merupakan satu himpunan tunggal. M.H. Thabathaba’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989), h. 278.
[24]al-Imam al-Sadiq Abu Zahra’, op.cit., h. 317.
[25]Ali Ahmad al-Salus, op.cit., h. 128.
[26]Ibid.
[27]Jelas definisi ini berbeda dengan definisi hadis dari kalanggan sunni yang hanya menyandarkan segala hal yang bersumber dari Nabi Saw, baik perkataan, perbuatan, dan ketetapan. Menurut M. H. Thabathaba’i, sekalipun hadis itu disandarkan kepada Nabi SAW dan Imam, namun keduanya dibedakan dengan jelas, yang keduanya merupakan satu himpunan tunggal. M.H. Thabathaba’i, Islam Syi’ah Asal Usul dan Perkembangannya (Jakarta: Grafiti Press, 1989), h. 278.
[28]Departemen Agama RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 98.
[29]Abu Bakar ibn Ahmad ibn Sabit al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi ‘ilm al-Riwayah, (Kairo: Dar al-Kutub al-Hadisah, t.th.), h. 50.
[30]Ibid.

Comments