KRITIK ILMIAH DALAM PERSPEKTIF ISLAM

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Islamisasi Ilmu Pengetahuan (Islamization of Knowledge) atau Islamiyyat Al-Ma’rifat adalah sebuah gagasan yang timbul akibat adanya dikotomi dalam ilmu pengetahuan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengembalikan ilmu pengetahuan pada pusatnya yaitu dengan ‘tauhid’. Dua di antara pencetus Islamisasi ilmu pengetahuan ini adalah Ziauddin Sardar dan Ismail Raji al-Faruqi yang terkenal dengan istilah “gerakan Islamisasi ilmu”.[1]

Namun, kedua intelektual muslim ini berbeda dalam menafsirkan konsep islamisasi ilmu pengetahuan ini. Islamisasi harus berangkat dari pandangan dunia (world view) yang Islami dan paradigma keilmuannya, sementara bagi Faruqi, gerakan Islamisasi dimulai dari adanya kritik terhadap ilmu-ilmu modern dengan menggunakan Islam sebagai analisisnya, setelah itu baru diadakan sintesis.[2]
Sikap kritis para akademisi ini kiranya sangat dibutuhkan agar menjadi prasyarat utama demi lahirnya kreativitas penciptaan teori-teori (theorie building) atau bahkan teori-teori kontemporer dengan paradigma baru, dalam hal ini paradigma Islam. Ini merupakan suatu hal yang sangat mutlak, sesuai relevansinya dengan psikologi sebagai suatu disiplin ilmu yang sangat sentral dan sarat nilai, terkait dengan pemahaman dan perlakuannya terhadap kehidupan kejiwaan manusia. Sebaliknya, hal ini justru sangat kontradiktif dengan psikologi barat yang sarat muatan nilai-nilai kultural dalam konteks lokal, dalam hal ini konteks barat.[3]
Berangkat dari salah satu pendekatan di atas, yaitu pendekatan yang digunakan Faruqi dalam mengimplementasikan Islamisasi pengetahuan dengan melakukan kritik terhadap teori-teori ilmu pengetahuan, semangat Islamisasi ini pun semakin meluas dalam peradaban kaum intelektual muslim di seluruh dunia.

B.       Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, maka yang menjadi pokok permasalahannya adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pengertian dari kritik ilmiah?
2.      Bagaimana kritik ilmiah dilihat dari perspektif Islam?













BAB II
PEMBAHASAN


A.      Pengertian Kritik Ilmiah
Secara bahasa, kritik adalah kecaman atau tanggapan yang kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, pemikiran dan sebagainya. Ilmiah berarti logis dan empiris. Logis: masuk akal, empiris: Dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan.[4]
Jadi yang dimaksud dengan kritik ilmiah ialah tanggapan seseorang atau pihak lain atas karya, pendapat atau pemikiran yang disertai dengan sanggahan yang masuk akal berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Kritik atas teori atau pemikiran dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya.[5]

B.       Kritik Ilmiah dalam Perspektif Islam
Ibn al-Haytham (965-1039 M), seorang Muslim dari Basra yang diyakini sebagai ilmuwan pertama di dunia pernah berargumen bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna, hanya Tuhanlah yang Maha Sempurna. Jadi untuk mencari kebenaran, singkirkan opini manusia dan biarkan alam berbicara. Jadi, apapun masih bisa dikritisi, dipermasalahkan, dipertanyakan dan didebatkan, tak terkecuali teori-teori ilmu pengetahuan.[6]
Hal yang sama juga diutarakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) yang menawarkan konsep kritisisme, yaitu suatu aliran dalam filsafat ilmu pengetahuan, hasil penggabungan antara rasionalisme Eropa yang teoritis (sesuai rasio) dengan empirisme Inggris yang berpijak pada pengalaman. Begitu pula dengan Karl Raimund Popper (1902-1994).[7] Ia berpendapat bahwa Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang apabila teori yang diciptakannya itu berhasil ditentukan ketidakbenarannya. Popper menamakan konsepnya ini dengan falsifikasi.
Jadi, kritik atas teori-teori dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya.
1.         Mungkinkah mengetahui
Sejak zaman Yunani kuno lahir aliran yang bernama sofisme (السوفسطائية). Menurut kaum sofis, semua kebenaran relatif. Ukuran kebenaran itu manusia (man is the measure of all things). Karena manusia berbeda-beda, jadi kebenaran pun berbeda-beda tergantung manusianya. Menurut anda mungkin benar, tetapi menurut saya tidak, demikian kurang lebih argumentasi kaum sofis. Akibatnya, mudah diterka, terjadi semacam kekacauan kebenaran. Semua teori sains diragukan, semua aqidah dan kaidah agama dicurigai. Manusia menjadi hidup tanpa pegangan “kebenaran”, dan hal seperti itu telah menyebabkan manusia terasing di dunianya sendiri. Maka kemudian, muncullah Socrates, yang jejaknya diikuti oleh Plato dan Aristoteles. Menurut mereka tidak semua kebenaran relatif, ada kebenaran yang umum, yang mutlak benar bagi siapapun. Kebenaran ini disebut idea oleh Plato, dan definisi oleh Aristoteles. Sofisme klasik ini kemudian bereinkarnasi (terlahir kembali) pada zaman modern dengan nama skeptisisme. Seseorang yang skeptis akan senantiasa meragukan kebenaran dan membenarkan keraguan. Baginya, semua pendapat tentang semua perkara (termasuk yang qath’i dalam agama) harus selalu terbuka untuk diperdebatkan. Pada tahap ekstrem dia akan mengklaim bahwa kebenaran hanya bisa dicari dan didekati, tetapi mustahil ditemukan.[8]
Wujud lain dari sofisme modern adalah relativisme. Pengidap relativisme epistemologis menganggap semua orang dan golongan sama-sama benar, semua pendapat (agama, aliran, sekte, kelompok, dan lain sebagainya) sama benarnya, tergantung dari sudut pandang masing-masing. Jika seorang skeptis menolak semua klaim kebenaran, maka seorang relativis menerima dan menganggap semuanya benar. Aliran ini yang kemudian berkembang menjadi paham pluralisme agama.
Islam tentu saja menentang paham sofisme dengan segala macam bentuk reinkarnasinya. Dari sejak awal surat, al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada. Sebagaimana di dalam al-Qur’an Q.S. al-Fatihah (1) ayat 6:

$tRÏ÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ   xÞºuŽÅÀ tûïÏ%©!$# |MôJyè÷Rr& öNÎgøn=tã ÎŽöxî ÅUqàÒøóyJø9$# óOÎgøn=tæ Ÿwur tûüÏj9!$žÒ9$# ÇÐÈ  

Terjemahnya:
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[9]

Sebagai bukti lain bahwa Islam memerangi sofisme, Islam mewajibkan pencarian ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad saw menegaskan dalam sebuah hadits:
طلب العلم فريضة على كل مسلم

Artinya:
Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.[10]

Hadits-hadits dan ayat-ayat lainnya yang mengutamakan ilmu, semuanya menolak mentah-mentah paham sofisme, skeptisisme, relativisme, dan semua bentuk reinkarnasinya. Dalam beberapa ayat, Allah swt juga mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih.[11]
Terkait dengan adanya ikhtilaf di antara ulama yang sering dijadikan pembenar bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, maka tentu harus dibedakan dulu mana yang qath’i dan mana yang zhanni, mana yang ushul dan mana yang furu’. Karena pastinya para ulama tidak mungkin berikhtilaf dalam masalah yang ushul dan qath’i. Kalaupun masih ada juga yang berbeda dalam kedua masalah tersebut, maka itulah orang-orang yang masuk kategori sayyi`ah dan dlalalah. Jika pemikir seperti Socrates, Plato dan Aristotels saja mengakui adanya kebenaran yang bersifat umum, maka sangat aneh jika para ulama yang terbimbing dengan al-Qur`an dan sunnah tidak mengakui adanya kebenaran tersebut. Padahal, al-Qur`an dan sunnah dengan sangat jelas telah memberikan bimbingan dalam masalah tersebut.

2.      Bagaimana Kita Bisa Mengetahui?
Ilmu diperoleh oleh manusia dengan berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai alat. Menurut Praja Juhaya, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Yang pertama disebut paham rasionalisme, dan yang kedua disebut paham empirisme. Pengetahuan jenis pertama disebut logis, dan pengetahuan jenis kedua disebut empiris.[12]
Kerjasama rasionalisme dan empirisme melahirkan metode sains (scientific method), dan dari metode ini lahirlah pengetahuan sains (scientific knowledge) yang dalam bahasa Indonesia sering disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu pengetahuan. Pengetahuan sains ini adalah jenis pengetahuan yang logis dan memiliki bukti empiris. Jadi tidak hanya logis saja yang menjadi andalan kaum rasionalis, tapi juga harus empiris yang menjadi andalan kaum empiris. Kalau ternyata pengetahuan tersebut hanya bersifat logis, tidak empiris, pengetahuan tersebut akan disebut pengetahuan filsafat, bukan pengetahuan sains/ilmiah.
Jujun S. Sumantri menyatakan bahwa kerjasama dari rasionalisme-empirisme ini kemudian melahirkan paham positivisme, yakni paham yang menyatakan bahwa segala pengetahuan yang ilmiah harus dan pasti dapat “terukur”. Panas diukur dengan derajat panas, jauh diukur dengan meteran, berat diukur dengan timbangan. Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.
Sementara wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya di setiap zaman.[13] Menurut Jujun, agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan manusia sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supernatural). Akan tetapi pengetahuan jenis ini banyak tidak diakui oleh para ilmuwan yang kurang berpihak pada agama, seiring dibatasinya pengetahuan ilmiah pada logis-empiris.[14]
Menurut Ahmad Tafsir, terdapat aliran lain yang mirip sekali dengan intuisionisme, yaitu iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama; di dalam Islam disebut teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih, maka ia telah siap dan sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini lebih terfokus pada ilhâm yang diturunkan Allah swt kepada manusia. Menurut Burhanuddin Salam, aliran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran Islam, boleh dikatakan dari sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadra. Jika kita menilik pemikiran para ulama Islam tentang sumber pengetahuan, akan didapati bahwa di antara mereka tidak ada yang hanya membatasi pada salah satu dari empat saluran pengetahuan sebagaimana dijelaskan Jujun di atas. Tidak seperti halnya di dunia Barat yang membatasi keilmiahan pada logis-empiris saja misalnya, dalam khazanah pemikiran Islam aliran semacam itu hampir tidak ditemukan.
Lihat misalnya pemikiran al-Nasafi yang menyatakan terdapat tiga saluran yang menjadi sumber ilmu, yaitu perspesi indera (idrâk al-hawâs), proses akal sehat (ta’âqul) serta intuisi hati (qalb), dan melalui informasi yang benar (khabar shâdiq). Oleh al-Attas, penguraian seperti al-Nasafi di atas dihitung empat, dengan memisahkan proses akal sehat dan intuisi hati.[15]
Ibn Taimiyyah sendiri tidak jauh berbeda dalam menjelaskan saluran-saluran pengetahuan ini. Dari tiga yang pokok: khabar, akal dan indera, Ibn Taimiyyah kemudian membagi indera pada indera lahir, yakni panca indera yang kita maklumi, dan indera batin, yakni intuisi hati. Terhadap teori kasyf sebagaimana disinggung oleh Burhanuddin Salam di atas, Ibn Taimiyyah juga memberikan kemungkinannya. Hanya menurutnya pengetahuan yang diperoleh lewat ilhâm tersebut tidak boleh bertentangan dengan khabar yang statusnya lebih kuat. Karena selain sama-sama berasal dari Allah swt, khabar ini juga disampaikan kepada manusia pilihan-Nya, yaitu para Nabi. Sehingga jelas apa yang disampaikan Allah swt kepada para Nabi lebih kuat kedudukannya ketika berbenturan dengan ilhâm yang banyak di antaranya hanya berupa lintasan-lintasan hati biasa dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Al-Ghazali menyampaikan pendapat yang sama. Menurutnya, hâkim dalam makna pemutus benar tidaknya sesuatu itu ada tiga, yaitu hissî (indera), wahmî (intuisi), dan ‘aqlî (akal). Menurut al-Ghazali, ketika hâkim wahmî itu terkadang bertentangan dengan akal dan indera yang kuat, padahal di sisi lainnya terdapat peringatan tentang adanya yang melintas di dalam hati ini berupa bisikan syetan, maka al-Ghazali hanya mengakui saluran wahmî dari orang yang dikuatkan oleh Allah swt dengan taufiq-Nya, yakni orang yang dimuliakan Allah swt disebabkan orang yang bersangkutan hanya menempuh jalan yang haqq. Tidak menyebutkannya al-Ghazali kedudukan wahyu secara tegas, bukan berarti ia tidak mengakuinya. Karena di dalam berbagai karyanya, termasuk dalam menentang para filosof melalui Tahâfut al-Falâsifah, al-Ghazali melandaskannya pada dalil-dalil wahyu. Itu semua dikarenakan yang menjadi titik tekan al-Ghazali dalam pembahasannya ini adalah hâkim dari diri manusia sendiri, bukan dari luar.[16]
Adapun al-Qadi Abu Bakar al-Baqillani, dengan konsep yang sama membagi sumber pengetahuan ini ke dalam enam bagian. Lima di antaranya adalah jenis-jenis indera, yaitu hâssat al-bashar (indera melihat), hâssat al-sam’ (indera mendengar), hâssat al-dzauq (indera mengecap), hâssat al-syamm (indera mencium), dan hâssat al-lams (indera merasa dan meraba). Adapun yang keenamnya, al-Baqillani menjelaskan: “Jenis yang keenam adalah sesuatu keharusan yang timbul di dalam jiwa secara langsung tanpa melalui indera-indera yang disebutkan tadi.” Al-Baqillani kemudian menyebutkan contoh-contoh pengetahuan yang diperoleh lewat
1.         Intuisi, seperti seseorang yang mengenali dirinya sendiri,
2.         Lewat akal, seperti memahami omongan, dan
3.         Lewat khabar khususnya yang mutawâtir, seperti tentang kehidupan yang ada di luar negeri. Termasuk tentunya khabar-khabar keagamaan, karena sifatnya yang sama sebagai khabar.
Penjelasan al-Baqillani ini menguatkan kesimpulan bahwa pemahaman para ulama terhadap sumber pengetahuan dalam Islam sama. Tidak ada pemilahan di antara mereka antara yang logis, empiris, dan intuitif. Semuanya diakui asalkan berdasar pada dalil-dalil yang kuat. Baik itu yang revelational/wahyu (naqlî), rasional (‘aqlî) ataupun empirikal (hissî).[17]
















BAB III
KESIMPULAN


Kritik ilmiah ialah tanggapan seseorang atau pihak lain atas karya, pendapat atau pemikiran yang disertai dengan sanggahan yang masuk akal berdasarkan fakta yang dapat dipertanggung jawabkan. Kritik atas teori atau pemikiran dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya.
Kritik atas teori-teori dalam khazanah ilmu pengetahuan bukanlah hal yang baru. Tujuan dari kritik ini sendiri jelas, yaitu karena tesis yang dikemukakan dalam teori tersebut tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman, atau yang dalam terminologi pengetahuan dikatakan tidak terbukti lagi validitas dan realibilitasnya. al-Qur`an mengajarkan agar manusia mencari kebenaran, karena kebenaran itu ada, dan kesalahan pun beserta orang-orang yang salahnya juga ada. Dalam beberapa ayat, Allah swt juga mengingatkan bahwa dalam hidup ini akan selalu ada dua pilihan; haqq dan bathil, benar (shawab) dan keliru (khatha`), sejati (shadiq) dan palsu (kadzib), baik (thayyib) dan busuk (khabits), bagus (hasanah) dan jelek (sayyi`ah), lurus (hidayah) dan tersesat (dlalalah). Semuanya itu mengajarkan nilai kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan mungkin untuk diraih.




DAFTAR PUSTAKA




A.Resa.SS.Wattimena.A. Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. (Penerbit PT. Grasindo, Jakarta, 2008)
Amsal Bahtiar, Filsafat Ilmu, (Cet. I; Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada, 2006)
Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Cet. I; Jakarta: Press, 2002)
Burhanuddin Salam, Logika Material; Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997)
Darmawati Hanafi, Teori-Teori Epistemologi; Rasionalisme Kritik, Fenomenologi, dan Intutionisme, dalam jurnal Wawasan Keislaman fakultas ushuluddin; Sulasena, Vol. I, 2006
Juhaya S. Praja, Aliran-Aliran Filsafat Dan Etika, (Cet. II; Jakarta: Kencana, 2005)
Jujun S. Sumantri, Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar Populer, (Cet. I; Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1998)
_______ , ilmu dalam prespektif, (Cet. IX; Jakarta: Yayasan Otor Indonesia, 1991)
Loren’s Bagus, Kamus Filsafat, (Cet. III; Jakarta: Gramedia, 2002)
Mochtar Efendi, Ensiklopedi Agama dan Filsafat, Jilid I (Cet. I; Palembang: Universitas Sriwijaya, 2000)
Soetriono.Hanfie,Rita, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Penerbit C.V ANDI Yogyakarta, 2008


[1] Amsal Bakhtiar , Filsafat Ilmu.Ed.1-9 (Jakarta:Rajawali Pers, 2010), h. 127.
[2]Ibid., h. 127-128.
[3]Ibid., h. 128.
[4]A.Resa.SS.Wattimena.A. Filsafat dan Sains: Sebuah Pengantar. (Penerbit PT. Grasindo, Jakarta, 2008), h.110.
[5]Ibid., h. 110-111.
[6]Soetriono.Hanfie,Rita, Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. (Penerbit C.V ANDI Yogyakarta, 2008), h.141.
[7]Dalam kajian Filsafat Ilmu, problem demarkasi dipopulerkan oleh Karl R. Popper pada awal abad ke-20. Popper adalah seorang Filsuf Ilmu asal Wina Austria yang awalnya bergabung dalam kelompok Vienna Circle yang mengembangkan Positivime Logis, namun akhirnya berbalik menjadi filsuf yang paling lantang mengkritik pendapat kelompok tersebut.1 Inti gagasan Popper ini adalah menemukan garis pemisah antara ilmu dan yang bukan ilmu, antara yang ilmiah dengan yang tidak ilmiah, dengan memberikan kriteria secara ketat terhadap apa yang disebut dengan ilmu (science) itu. Lihat Mohammad Muslih, Pendidikan Islam dalam Perspektif Filsafat Ilmu, (Jurnal Hunafa, STAIN Datokarama Palu, Vol. 8, No.1, Juni 2011), h. 53.
[8]Ibid., h. 59.
[9]Departemen Agama RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya (Jakarta: CV. Darus Sunnah, 2002), h.1.
[10]Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi, Sahih Muslim, Juz II (Bandung: Syirkat Al Ma’arif li al Thaba’i wa al Nasyr, t.th) h. 1137.
[11]Murthadha Muthahhari, Filsafat Hikmah; Pengantar  Pemikiran Syadra,diterjemahkan dari beberapa sumber karyanya oleh Tim Penerjemah Mizan, (Cet. I; Bandung: Mizan, 2002), h. 57.
[12]Praja Juhaya S, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, (Jakarta:Prenada Media, 2003), h. 156. Lihat juga Lihat Jujun S. Sumantri, Ilmu dan Perspektif, (Cet. IX; Jakarta: Yayasan Otor Indonesia, 1991), h. 217.
[13]Ibid., h. 218.
[14]Praja Juhaya S, op.cit., h. 157-159.
[15]Burhanuddin Salam , Logika Material; Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 97.
[16]Ibid., h. 98.
[17]Ibid., h. 99.

Comments

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)

PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA