PENDIDIKAN ISLAM MASA KERAJAAN GOWA



I.                   PENDAHULUAN


A.      Latar Belakang Masalah
Dalam sumber-sumber Portugis, maupun Makassar telah diketahui, bahwa Islam telah sampai di Sulawesi Selatan sejak awal abad XVI, pada saat saudagar-saudagar bangsa Melayu beragama Islam, telah menetap di Makassar dan di tempat-tempat lainnya di pantai Sulawesi-Barat-Daya, yakni pada masa pemerintahan Raja I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yang kemudian dikenal sebagai Taunipallangga (memerintah tahun 1546-1565).

Begitu pula pada masa Raja I Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa alias Karaeng Tunijallo (memerintah tahun 1565-1590) bersahabat dengan raja-raja Johor, Malaka, Pahang, Blambangan, Patani, Banjar, dan Ternate. Jelaslah pada waktu itu telah terjalin hubungan yang erat antara Kerajaan Gowa dengan berbagai daerah di Sumatra, Malaka, dan Hindia Belakang.[1]
Untuk kemajuan perdagangan dan sebagai tanda kemurahan hati, penguasa Gowa memberikan kesempatan kepada saudagar-saudagar asing untuk menjalankan ibadah menurut agama dan kepercayaannya. Mengenai perilaku Karaeng Tunijallo disebutkan dalam Lontara’ Patturioloanga ri tu-Gowaya mencatat: “iapa anne karaeng ampambangungangi masigi ri Mangallekana, nikellainna majannang mammempo ansuroi manaik hajji”, artinya, “raja inilah yang mendirikan masjid di Mangallekana[2] bagi para pedagang, agar mereka mau tinggal menetap dan memberikan kemudahan dalam menunaikan ibadah haji”[3]. Ketika itu orang naik haji dengan menggunakan jasa kapal-kapal milik Portugis.[4]
Menurut Mattullada[5] bahwa ada kemungkinan akibat hubungan dan keakraban antara orang Melayu yang Islam dengan orang-orang Makassar dan Bugis yang belum Islam, memungkinkan terciptanya pra-kondisi yang melancarkan penerimaan Islam kelak di kemudian hari oleh masyarakat Makassar dan Bugis.
Sebuah berita dari sumber Ternate, yang sudah diumumkan oleh Valentijn, bahwa pada tahun 1580, masa pemerintahan Karaeng Bontolangkasa, Sultan Baabullah Raja Ternate mengujungi Somba Opu, ibu kota Kerajaan Gowa. Kedua raja itu membuat perjanjian persekutuan. Dalam pertemuan tersebut Sultan Baabulah menawarkan bantuannya kepada Kerajaan Gowa dan sebagai imbalannya Karaeng Gowa dituntuk untuk masuk Islam,[6] namun Tunijallo menolak. Penolakan atas tawaran Sultan Baabullah mungkin terdorong oleh ketakutan Tunijallo bahwa Ternate akan menggunakan agama sebagai cara untuk mempengaruhi Kerajaan Gowa, karena Kerajaan Ternate kini berkembang ke Barat sampai ke Pulau Selayar yang berada di samping Kerajaan Gowa.[7]
Ada kemungkinan sebelum Gowa di-Islamkan, salah satu daerah yang berada di wilayah kekuasaan Kerajaan Gowa yakni Cikoang (sekarang berada di daerah Takalar) telah mengalami peng-Islaman lebih dahulu dari Gowa. Hal ini dapat diketahui berdasarkan suatu informasi yang menyebutkan pada tahun-tahun pertama abad XVII Sayyid Jalaluddin Al Aidid membawa Islam ke Cikoang, Laikang, dan Turatea di Selatan Makassar. Menurut sumber Cikoang, dia adalah putera pasangan Sayyid Muhammad Wahid dan Syarifah Halisayah dari Aceh.[8]
Sebelum ke Gowa sekitar akhir abad XVI, Sayyid Jalaluddin yang memulai perjalanannya dari Aceh menuju ke Banjarmasin. Di sana ia menyampaikan ajaran Islam yang berkaitan erat dengan sekte Syi’ah dan berhasil meng-Islamkan seorang bangsawan yang berasal dari Binamu (Je’ne’ponto), kemudian Sayyid Jalaluddin mengawini putri bangsawan tersebut. Dari Banjarmasin Sayyid Jalaluddin menuju ke kampung istrinya, tetapi sebelumnya singgah di Gowa dan mencoba mengajak penguasa setempat untuk memeluk Islam, namun mengalami perlawanan, sehingga dia pindah ke Cikoang. Di daerah ini, ia berhasil meng-Islamkan kelompok bangsawan dan penduduk yang masih kafir.[9]

B.       Rumusan Masalah
Dalam penyusunan makalah ini, yang menjadi pokok permasalahannya adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana pola pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa?
2.      Bagaimana lembaga pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa?
3.      Bagaimana karakteristik pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa?






II.                PEMBAHASAN

A.      Pola Pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa

Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-10 dikembangkan keterampilan seperti pandai besi, pembuat bangunan rumah dan perahu, pembuatan sumpit, senjata dan lain-lain. Selanjutnya, dengan dipeluknya agama Islam sebagai agama resmi kerajaan pada tanggal 9 November 1607, sistem pendidikan tradisional semakin berkembang. Mesjid Kalukubodoa (Tallo-Gowa) misalnya, menjadi pusat pengajian Islam yang dikunjungi oleh siswa baik dari kerajaan Gowa maupun dari segenap negeri-negeri Bugis-Makassar lainnya yang telah menerima agama Islam.
Pada masa pemerintahan raja Gowa ke-15 (1637-1653) Sultan Malikussaid (I Mannuntungi Daeng Mattola Karaeng Lakiung), tiap-tiap negeri (bate) memiliki mesjid dan di tiap-tiap kampung memiliki langgara’ (langgar). Selain dipergunakan untuk shalat, mesjid dan langgar juga digunakan sebagai tempat pengajian agama bagi anak-anak muda di tempat itu. Guru yang mengajarkan Alquran dan ilmu-ilmu Islam lainnya disebut anrong-gurunta atau gurunta. (Mattulada, 1995: 29).
Selain itu, penulisan dan penyalinan buku-buku agama Islam dari bahasa Melayu ke bahasa Makassar (lontara) giat dilaksanakan. Berbagai lontara yang asalnya dari bahasa Melayu diduga berasal dari zaman permulaan perkembangan Islam di Sulawesi Selatan (abad ke-17 dan 18), sampai sekarang masih populer di kalangan orang tua-tua Bugis-Makassar. Lontara yang dimaksud antara lain: (1) Lontara perkawinan antara Sayidina Ali dengan Fatima, putri Rasululullah, (2) Lontara Nabi Yusuf dan percintaan Laila dan Majnun, (3) Sura’ bukkuru yang dalam bahasa Bugis dikenal dengan lontara pau-paunna Sultanul Injilai, (4) Budi Istihara, (5) Kitta faraid (Kitab Hukum Pewarisan), (6) Kitta Nika (Kitab Hukum Perkawinan), (7) Lontara’na Sehe Maradang, (8) Lontara tentang peperangan Nabi Muhammad dengan raja Hindi, (9) Berbagai mukjizat Nabi Muhammad, dan (10) Lontara tentang wewenang kali (kadhi) menurut sara’ dan banyak yang lain (Mattulada, 1995: 28).

B.       Lembaga Pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa
C.      Karakteristik Pendidikan Islam pada masa Kerajaan Gowa

A.     Islamisasi dan Metode Peng-Islaman Tanah Gowa
Mengenai kapan tepatnya masuknya Islam secara resmi di Kerajaan Gowa terdapat berbagai versi yang berkisar antara tahun 1603-1607, seperti versi pertama dikemukakan oleh beberapa Sejarawan, di antaranya Roelof Blok[10], Raffles[11], Couver[12], dan Erkelens[13], Schrieke[14]; serta A. Ligtvoet[15] yang mengutip dari Lontara’ Bilang (buku diary Kerajaan Gowa-Tallo):

Hera 1603                               Hijara’sanna’ 1015
22 Satembere’, 9 Jumadele’ Awala’, malam Juma’
Namantama Islam karaenga rua sisari’battang
Artinya :
1603 Masehi                1015 Hijriah
22 September, 9 Jumadil Awal, malam Jum’at, kedua
raja bersaudara memeluk agama Islam.

Pendapat yang kedua  mengatakan Islam masuk di Kerajaan Gowa pada tahun 1605, hal ini dikemukakan oleh Crawfurd, Matthes yang mengambil pijakan dari Kronik Tallo[16]. Sementara pendapat yang ketiga Islam masuk di Kerajaan Gowa nanti pada tahun 1607, dikemukakan dalam “Makasaarsche Historien”[17].
Mengenai beberapa versi tentang awal mula tepatnya Islam masuk di Kerajaan Gowa telah berhasil dipecahkan oleh Noorduyn, dengan mengatakan bahwa sebenarnya itu hanya merupakan satu perbedaan semu, jadi haya kekhilafan saja (kesalahan penulisan), dari hasil rumusan dan analisanya serta perhitungan yang akurat yang diambil dari buku diary Kerajaan Gowa juga, maka dia berkesimpulan bahwa waktu yang tepat masuknya Islam di Kerajaan Gowa adalah hari Kamis tanggal 22 September 1605 bertepatan tanggal 9 Jumadil Awal 1014 Hijriah[18].
Raja yang memeluk Islam pada tanggal itu ialah Raja Tallo’ yang juga menjabat Mangkubumi dalam Kerajaan Gowa, yakni I Mallingkang Daeng Manyonri’, dan bergelar Arab Sultan Abdullah Awwalul Islam. Kemudian diikuti pada saat yang bersamaan Raja Gowa I Mangnga’rangngi Daeng Manrabia juga mengucapkan syahadat dan bergelar Sultan Alauddin[19]. Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa dan Tallo’ berhasil di-Islamkan, sebagai buktinya diadakan sholat Jum’at yang pertama kalinya di Tallo’ yakni pada tanggal 9 Nopember 1607 M (18 Rajab 1016 H). Seperti yang dikemukakan oleh Ligtvoet[20].

Hera 1607                                           Hijara’ sanna’ 1017
9 Noembere’, 18 Ra’ja’, hari Juma’. Naunru Mammenteng
jumaka ri Tallo’, uru sallanta.
Maksudnya:
1607 Masehi                                                        1017 Hijriah
9 November, 18 Rajab, hari Jum’at, mula-mula diadakan Sholat
Jum’at di Tallo’, ketika pertama-tama masuk Islam.

Sholat Jum’at pertama ini adalah merupakan suatu peristiwa yang menandakan resminya Kerajaan Gowa menjadi negeri Islam, atau boleh dikatakan resminya Kerajaan Gowa beralih dari daar al harb (wilayah kafir) dan merupakan awal wilayah Kerajaan Gowa masuk dalam bagian daar al Islam (dunia Islam)[21].
Para Sejarawan mendapatkan kesulitan dalam meneliti motivasi yang mendorong kedua raja dari kerajaan Makassar tersebut sehingga mau menerima Islam, karena naskah-naskah yang ada tidak menerangkan secara khusus tentang hal tersebut, sehingga para sejarawan hanya bisa memperkirakannya[22].
Peng-Islaman Raja Gowa-Tallo,  juga memiliki beberapa versi[23], baik menurut Lontara’ bilang; Lontara Patturioloangari tu-Gowaya, Lontara Sukkukna ri Wajo, maupun dari cerita-cerita rakyat yang berkembang di Makassar.
Pertama, menurut Lontara’ Sukkukna ri Wajo[24], bahwa usaha Islamisasi telah dimulai sejak tibanya orang Melayu di Gowa, lewat seorang ulama’ yang bernama Anahkoda Bonang untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam. Namun karena ia tidak memahami dengan baik budaya masyarakat setempat, maka ia gagal meng-Islamkan Raja Gowa, karena yang ia sampaikan hanya larangan-larangan yang menakutkan. Selanjutnya kira-kira pada awal abad XVII tibalah di Gowa tiga orang alim ulama yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau. Mereka konon diutus oleh Sultan Aceh dan Johor, untuk mengembangkan dan menyiarkan agama Islam di Sulawesi Selatan. Sebelum mereka ke Gowa, mereka telah mengetahui dan memahami budaya orang Makassar-Bugis lewat orang Makassar dan Bugis yang berdiam di Riau dan Johor. Sesampainya di Gowa, mereka memperoleh keterangan dari orang-orang Melayu yang bermukim di Gowa, bahwa Raja yang paling dihormati dan dimuliakan di Sulawesi-Selatan ialah Datuk Luwu, sedangkan yang paling kuat pengaruhnya adalah Raja Gowa dan Tallo, maka mereka memutuskan untuk terlebih dahulu meng-Islamkan Datuk Luwu, barulah sesudah itu raja-raja lainnya.
Kedua, Chambert  Loir [25] mengatakan bahwa menurut cerita rakyat Makassar, ulama yang membawa Islam ke Sulawesi Selatan adalah orang yang berasal dari Koto Tangah, Minangkabau, Sumatera Barat yang bernama Abdul Makmur Khatib Tunggal Dato’ ri Bandang[26]. Ia adalah seorang murid dari seorang Wali Songo di Jawa Timur yakni Sunan Giri[27]. Ia tiba di pelabuhan Tallo, dengan menumpang sebuah perahu yang aneh. Setibanya di darat, Dato’ ri Bandang melakukan sholat, sesudah itu ia berzikir dengan tasbihnya dan mulai membaca Al-Qur’an, yang membuat penduduk setempat terpukau. Kemudian di antara mereka segera memberitahukan kapada Raja Tallo tentang perilaku orang asing tersebut.
Pada saat Raja Tallo mendengar hal tersebut, kemudian bergegas pergi menemui Dato’ ri Bandang. Raja Tallo menyapa Dato’ ri Bandang begitu ia melihatnya dan menanyakan kepadanya: “Tuhan apa yang kamu sembah?”. Dato’ ri Bandang menjawab bahwa “Tuhanku tuhanmu juga”. Raja Tallo terkesan dengan penampilan dan tutur kata Dato’ ri Bandang dalam menjelaskan ajaran islam, atas kemauannya sendiri raja minta di-Islamkan dan meminta Dato’ ri Bandang untuk tinggal di Tallo, untuk mengajarkan Islam kepada rakyatnya.
Ketiga, menurut cerita rakyat versi lain, tokoh Abdul Makmur Khatib Tunggal, memang pernah ada dan menjadi guru agama dalam istana Kerajaan Gowa dan Tallo. Dia adalah salah seorang dari tiga ulama yang sengaja diundang oleh pihak kerajaan untuk menjalankan da’wah Islamiyah di negeri ini. Dua ulama lai adalah Khatib Sulung Dato’ Patimang dan Khatib Bungsu Dato’ ri Tiro. Pada saat raja Tallo menyambut kedatangan  Dato’ ri Bandang di pintu gerbang istana, Raja Tallo mengucapkan salam. Hal ini menunjukkan bahwa baginda sudah Islam. Versi ketiga ini, memperlihatkan bahwa agama Islam sudah ada di Sulawesi Selatan dan telah dianut oleh individu-individu yang telah mempelajarinya, sebelum resmi dinyatakan sebagai agama kerajaan pada tahun 1605.
Keempat, menurut sumber lain yakni sumber tradisional berupa kronik Tallo, Islamisasi di Makassar berawal, ketika Mangkubumi Gowa, yakni I Manlikaang Daeng Manyonri’, tertarik pada agama Kristen yang dianut orang Portugis dan agama Islam pada orang-orang Melayu. Untuk itu ia mengunjungi Arung Matoa Wajo (raja kerajaan sahabat yang dituakan sering dimintai pendapatnya mengenai masalah-masalah penting). La Mungkace’ Touddama(ng) (1567-1607), yang bukan muslim, membicarakan dan membandingkan persoalan-persoalan ke-tauhidan antara agama Kristen dan Islam, oleh karena tidak puas dengan penjelasan La Mungkace’[28], maka akhirnya ia berketetapan untuk mengundang mubalig yang tersohor pada masa itu yaitu Dato’ ri Bandang Abdul Makmur Khatib Tunggal orang Minangkabau dari Koto Tangah, datang bersama Khatib Sulaiman yang kemudian dikenal dengan nama Dato’ Patimang dan Khatib Bungsu yang bernama Dato’ ri Tiro, maka mulailah Islamisasi dilakukan di kerajaan kembar Gowa-Tallo itu[29]. 
Kelima, dalam kisah lain diceritakan ketika Raja Tallo’ (Mangkubumi Kerajaan Gowa) berada dalam keraguan antara memilih Islam atau Kristen, Karaeng Matoaya meminta didatangkan paderi Portugis dari Malaka dan Ulama Islam dari Aceh (menurut Gervaise), dari Mekah (menurut Tavernier), dan bersumpah dia akan memeluk agama mereka yang pertama tiba. Pada saat Gubernur Malaka mengabaikan kewajibannya sebagai orang kristiani, orang Islam yang pertama tiba dan menang. Menurut analisa Pelras keraguan ini muncul diakibatkan para penguasa di Sulawesi-Selatan menemukan aspek tertentu dalam sejarahnya yang mereka khawatirkan akan membahayakan ketertiban sosial dan mengancam kekuasaannya, sehingga ia ragu untuk menentukan pilihan, sekalipun mereka sebenarnya simpati pada kedua ajaran tersebut[30].
Mengenai siapa sebenarnya tiga ulama tersebut juga masih mengundang berbagai perbedaan pendapat, apakah ia benar dari Koto Tangah Minangkabau, atau ulama yang diutus dari Aceh, ataukah ulama yang didatangkan dari Arab Mekkah.
Dalam satu sumber lokal Bima disebutkan bahwa Dato’ ri Bandang adalah seorang Arab yang tinggal di Sumatera bernama Syekh Maulana Jalaluddin, sedangkan Dato’ ri  Tiro dianggap sebagai orang Aceh yang berasal dari Pidie dan menyelesaikan studinya di Tiro[31]. Juga sebagaimana yang telah disebutkan di atas mengenai beberapa versi peng-Islaman di Kerajaan Gowa-Tallo (lihat: versi keempat, menurut Kronik Tallo’), bahwa sultan Tallo, meminta didatangkan ulama dari Aceh, ada yang mengatakan dari Mekkah.
Lain halnya dalam Babad Lombok, didapatkan informasi bahwa Sunan Giri memerintahkan para pangeran dari Jawa Timur dan Palembang untuk menyebarkan Islam ke seluruh Nusantara bagian timur; Lembu Mangkurat berangkat ke Banjar; Dato’ Bandan (mungkin yang dimaksud Dato’ ri Bandang) diutus ke Makassar, Timor, Seram dan Selayar; Pangeran Prapen (putranya sendriri) ke Lombok, Bali, dan Sumbawa[32].
Terlepas dari vesi mana yang mendekati kebenaran, yang jelas bahwa ketiga ulama[33] tersebutlah yang memiliki peranan penting dalam upaya peng-Islaman para penguasa kerajaan lokal, dan masyarakatnya di daerah Sulawesi Selatan. Keberhasilan da’wah ketiga ulama tersebut sehingga Islam berkembang begitu pesat tidak dapat dipungkiri berkat ketepatan metode yang digunakan dalam menyebarkan Islam di Kerajaan Gowa yakni melalui institusi keraton. Pola ini adalah pola islamisasi dikenal dengan “Konversi Keraton”[34]. Proses Islamisasi seperti ini hanya dapat dilakukan dalam suatu struktur negara yang telah memiliki basis legitimasi geonologis. Konversi agama dijalankan, tetapi pusat kekuasaan telah ada lebih dahulu. Pola ini juga terjadi di Ternate dan Banjarmasin[35].
Kedudukan raja di Kerajaan Gowa yang disebut “sombaya”, memiliki kekuasaan yang sangat luas. Rakyat Kerajaan Gowa memandang Sombaya sebagai titisan dewata, yang “berdarah putih” yang merupakan anak keturunan tumanurung, sebelum terjadinya Islamisasi dan dipandang sebagai bayang-bayang Tuhan atau wakil Tuhan di bumi sebagai Islamisasi[36].
Sombaya dianggap sebagai manusia mulia yang memiliki kalompoang  sebagai sumber legitimasi kekuasaan[37] sehingga apa pun kebijakan yang ditetapkannya, maka rakyat wajib mentaatinya. Hal ini mirip dengan konsep kekuasaan raja di Tanah Jawa, yang menganggap raja merupakan wakil penguasa dari Hyang Maha Agung. Pangeran Puger mengatakan raja adalah “warananing Allah” (wakil, proyeksi atau layar penjelmaan Tuhan). Jadi raja memegang kekuasaan negara secara mutlak. Tugasnya memelihara tegaknya hukum dan keadilan, dan karena itu semua wajib taat kepadanya, siapa yang berani menentang raja berarti berani menentang kehendak Hyang Maha Agung.[38]
Dalam tradisi perpolitikan di Sulawesi-Selatan, seorang yang akan diangkat sebagai raja, maka biasanya didahului dengan sutau “kontrak” antara calon raja dan dewan batesalapang, seperti yang dituturkan dalam lontara’ berikut ini:
            
...Bahwasanya kami telah mengangkat engkau menjadi raja kami, engkau adalah raja dan kami menjadi abdimu. Bahwa engkau menjadi sangkutan tempat kami bergantung dan kami telah lau (semacam labu tempat air) yang bergantung kepadamu. Bahwa apabila sangkutan itu patah, lalu tak pecah berantakan lau itu, maka hianatlah kami. Bahwa kami tak tertikam oleh senjatamu, sebaliknya engkau pun tak tertikam oleh senjata kami. Bahwa hanya dewatalah yang membunuh kami dan hanya dewata jugalah yang membunuhmu. Bertitalah engkau dan kami menaatinya, kalau kami menjinjing maka kami tidak memikul, kalau kami memikul, maka kami tidak menjinjing. Engkau adalah angin dan kami adalah daun kayu, akan tetapi hanyalah daun kayu kering yang engkau luruhkan. Engkau adalah air dan kami hanyalah batang kayu hanyut, tetapi hanya air pasang besar saja yang dapat menghanyutkannya, walaupun anak kami, walaupun istri kami, jika kerajaan tidak menyukainya, maka kami pun tak menyukainya. Bahwasanya kami mempertuan engkau, tetapi harta benda kami bukanlah engkau menguasainya. Bahwa engkau pantang mengambil ayam kami dari tenggeramannya, pantang engkau mengambil telur di pekarangan kami, tidak mengambil kelapa kami sebutir pun, dan tidak mengambil pinang setandan pun dari kami. Bahwa apabila engkau menghendaki suatu barang dari kami, engkau membelinya yang patut engkau beli, engkau menggantinya yang patut engkau ganti, engkau memintanya yang patut engkau minta, maka kami akan memberikannya kepada engkau, pantang engkau mengambil begitu saja milik kami. Bahwa raja tidak menetapkan suatu keputusan tentang masalah dalam negeri tanpa gallarang, dan gallarang tak menetapkan sesuatu tentang peperangan tanpa raja....[39](terj.).

Jika kita melihat keterangan dari naskah lokal di atas, maka rakyat wajib menjunjung tinggi segala titah raja, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan kerajaan. Raja memiliki kharisma, kewibaan, wewenang, dan kekuasaan. Hal inilah yang dimanfaatkan ketiga dato’ tersebut, sehingga ketika raja berhasil di-Islamkan, maka dengan mudah rakyat yang dipimpinnya akan mengikutinya.[40]
Dari kalangan elite ini kemudian Islam menyebar ke seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Strategi memilih meng-Islamkan kalangan elite lebih dulu merupakan strategi yang jitu, karena jika sesuatu hal telah diterima kaum elite, rakyat tinggal mengikuti. Kewibawaan elite di mata rakyat luar biasa besarnya. Hal ini masih berlangsung sampai sekarang.[41]
Selain itu yang mempercepat tersebarnya Islam di Makassar, adalah Islam memiliki daya tarik tersendiri jika dibandingkan dengan keyakinan tradisional yakni, memiliki keunggulan dalam menyangkut nilai-nilai sosial yang lebih manusiawi dan demokratis serta rasional. Islam menenmpatkan individu pada kedudukan dengan martabat yang sama. Raja menempati posisi yang sederajat terhadap rakyatnya. Hal ini berbeda dengan masa sebelumnya yang memandang raja sebagai keturunan dewa yang bersemayam di dunia atas dan dunia bawah. Oleh karena itu raja cenderung untuk berkuasa secara absolut. Disebabkan keunggulan-keunggulan ajaran Islam itulah yang menyebabkan Islam lebih mudah diterima dibandingkan dengan ajaran-ajaran yang lain.[42]
Hal yang perlu juga menjadi perhatian bahwa dibalik keberhasilan da’wah Islam di Makassar, tidak semua orang begitu saja dengan mudah beralih keyakinannya, sebab dalam tradisi lokal[43] didapatkan keterangan bahwa usaha Islamisasi pada awalnya ditentang oleh sejumlah bissu’, beberapa di antara mereka terpaksa mengungsi ke Kaili (daerah Sulawesi Tengah), selain itu beberapa bangsawan Gowa, di antaranya putra Karaeng Matoaya juga mengadakan perlawanan, bahkan ia mencoba akan menyerang Dato’ ri Bandang, namun akhirnya berhasil di-Islamkan juga.







[1] Muh. Bachrun Sibali. Syekh Yusuf Tuwanta Salamaka Ulama Pejuang Abad XVII. (Jakarta: Depdikbud. 1989), hlm 6.
[2] ANRI Numdel Makassar No. 359 Lembar 15. Mangallekana adalah sebuah kota pantai, tidak jauh dari sebelah selatan Kerajaan Gowa. Mengenai hal ini untuk lebih jelasnya lihat A. Ligtvoet, “Transcriptie van het Dagboek der Vorsten van Gowa en Tallo, met Vertalung en Aanteekeningen,” dalam BKI deel V, 1880, hlm. 155.
[3] Muh. Bachrum Sibali, loc. cit.
[4] Lihat ANRI, Bundel Makassar No. 155. Lembar 162.
[5] Mattullada, “Minangkabau dalam Kebudayaan Orang Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan”. Dalam A.A. Navis (ed.) Dialektika Minangkabau dalam Kemelut Sosial dan Politik, (Padang: Genta Singgalang Press, 1983), hlm. 131-132.
[6] Menurut Noorduyn, hal ini memunculkan suatu pertanyaan-pertanyaan baru, yakni bantuan di sini, untuk menghadapi siapa dan mengapa hal ini sama sekali tidak disebut dalam berita-berita Makassar. Lihat Noorduyn, “Islamisering van Makassar”,  dalam BKI 122, 1956, hlm. 250.
[7] Leonard Y. Andaya, The Heritage of Arung Palakka A History of South Sulawesi (Celebes) in The Seventeeth Century, VKI, (Leiden: KITLV The Hague Martinus Nijhoff, 1981), hlm. 30; Diperkirakan di Pulau Selayar pernah berada dalam kekuasaan Ternate sebagaimana kawasan-kawasan lain di Sulawesi (Banggai-Sangir Talaud, Gorontalo). Lihat Tim PAU-SS-UGM, Laporan Penelitian dan Perubahan Sosial Studi tentang Hubungan Antara Islam, Masyarakat, dan Struktur Sosial-Politik Indonesia. (Yogyakarta : PAU-SS-UGM, 1992/1993), hlm. 131.
[8] Christian Pelras, “Religion,...”, op. cit., hlm. 112.
[9] Ibid
[10] R. Blok, “boknopte Geschiedenis van het Makassaarsche Celebes en Onderhorigheden”. Dalam TNI, 1848. hlm. 11.
[11] S.T. Raffles, Historyof Java II, (London: Oxford University Press, 1817), hlm. CLXXXVI (Appendix)
[12] A.J.L. Cover. MvO Gouverneur Celebes en Onderhoorigheden Juni 1924-Juni 1929, (Leiden: KILTV), hlm. 15.
[13] Erkelens, op. cit., hlm. 83.
[14] Schrieke, op. cit., hlm. 65.
[15] A. Ligtvoet, op. cit., hlm 6.
[16] Dalam tulisan Matthes malah ditemukan dua angka tahun yang berbeda 1605 dan 1606, namun telah dijelaskan mana yang sebenarnya tepat . Lihat B.F Matthes, Makassaarsche Chrestomathie, (Amsterdam: Het Nederlandsch Bijbelgenootschap, 1860). hlm. 192. Periksa juga J. Noorduyn, “The Manuscript of The Makasarese Cronile of Goa and Talloq: An Evaluation’, dalam BKI deel 147, KITLV, 1991. hlm. 478-483. Lihat juga: Abdul Rahim, dan Ridwan Borahima, Sejarah Kerajaan Tallo’ (Suatu Transkripsi Lotara’). (Ujung Pandang: Pemda Tkt. I Sul-Sel kerjasama P3NBS Sul-sel, 1974), hlm. 15.
[17] P. Bleeker, J. Munnich, E. Netscher, “Makasaaesche Historien I”, dalam TBG deel IV, Batavia Lange & Co. 1855, hlm. 120.
[18] Periksa Noorduyn, “Islamisering..... “ op. cit., hlm. 247-266. Lihat juga: Anthony Reid, Southeast Asia in The Early Modern Era Trade, Power, and Belief. (Ithaca and London: Cornel University Press, 1993), hlm. 154. Bandingkan A. Thomassen A Thuessink van Der Hoop, N.J. Krom, R.A.Kern, Geschiedenis van Nederlandsch Indie deel I, N.V. Uitgeversmaatschaappij Joost van den Vondel Amsterdam, 1938, hlm. 356. Hal ini juga  terdapat dalam Lontara’ milik Sohra A. Baso, lihat ANRI Makassar Reel.22. No.24.
[19] Ketika itu Raja Gowa XIV berusia kurang lebih 19 tahun setelah menduduki tahta Kerajaan Gowa selama 12 tahun
[20] Ligtvoet, loc. cit.
[21] J.Noorduyn, “Makassar and The Islamization of Bima” dalam BKI deel 143, KILTV, 1987, hlm. 316.
[22] Ahmad M. Sewang. “Islamisasi Kerajaan Gowa”. (Jakarta: Disertasi S-3 pada IAIN Syarif Hidayatullah, 1997), hlm. 136.
[23] Mattulada. “Islam di Sulawesi Selatan”, dalam Taufik Abdullah (ed.). Agama dan Perubahan Sosial, (Jakarta: Rajawali, 1983), hlm. 220-222.
[24] Andi Zainal Abidin Farid, Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan, (Ujung Pandang: Hasanuddin University Press, 1999), hlm. 228-229.
[25] Baca: Henri Chambert Loir, “Dato’ ri Bandang.....” op. cit., hlm. 141-142.
[26] Menurut Pelras: Abdul Makmur Khatib Tunggal mengunjungi Makassar untuk pertama kalinya pada tahun 1575, guna menyebarkan agama Islam, namun dia mengalami hambatan dengan kondisi masyarakatnya, yakni kegemaran penduduknya memakan daging babi kering, mencampur hati rusa mentah dengan darah (lawa), dan arak sagu, maka ia memutuskan pindah ke Kutai dan rupanya di sana ia lebih berhasil. Periksa: Pelras, The Bugis, op. cit., hlm. 134.
[27] Keterangan ini diperkuat oleh keterangan de Graaf bahwa sejumlah daerah di sebelah timur Gresik yang terkenal masuk islam dari Giri, yakni: Madura, Lombok, Makassar, Hitu, dan Ternate. Periksa: H.J. de Graaf, Geschiedenis van Indonesie, (Bandung: N.V. Uitgeverij W. Van Hoeve ‘s-Gravenhage, 1949), hlm. 89.
[28] Dalam hikayat Wajo disebutkan bahwa ketika Arung Wajo mendekati kematiannya. Karaeng Matoaya melayatnya dan menanyakan beberapa hal kepadanya, di atara pertanyaannya: “Apakah sebab engkau berani dan panjang umur, serta mengapa daerah engkau begitu makmur?”, dijawab oleh Arung Wajo: “Sebabnya ialah saya tidak pernah membohongi diri sendiri, lebih-lebih kepada dewata seuwae (Tuhan Yang Maha Tunggal); Karaeng Matoaya bertanya kepada Arung Matoa Wajo: “Apakah engkau mau memberitahu aku berapa banyak dewa yang ada?”, Arung Matoa menjawab: “Hanya ada satu Dewata, namun banyak utusan-Nya”. Kemudian Karaeng Matoaya menanyakan lagi: “Apakah Tuhan tidak memiliki ibu dan ayah?”, Arung Matoa berkata : “Ya, hanya untuk alasan itu Dia disebut Tuhan, bahwa dia tidak beribu dan tidak berayah.” Dalam nasehat selanjutnya Arung Wajo menjelaskan, bahwa ia telah bermimpi, yakni tiga tahun setelah ia tutup usia, maka akan datang agama baru dari posi’ tana (pusat bumi atau Mekkah) yang mewajibkan orang menyembah dewata seuwae secara langsung dan menganjurkan supaya Karaeng Matoaya memeluk agama itu. Arung Wajo bahwa agama baru itu sama saja dengan ajaran dalam lontara’  yang menganjurkan kebaikan dan menolak kejahatan, perbedaannya hanyalah bahwa agama baru itu melarang orang memakan camegguk (daging babi), anjing, tikus, ular, buaya, dan segala binatang yang kotor. Juga dilarang minum takammelawek (tuak pahit yang memabukkan), cara menyembahnya ialah memuja tuhan dengan sujud. Lihat: Noorduyn, “Islamisering...”, op. cit., hlm. 263; Andi Zainal Abidin Farid, Capita Selecta Sejarah ... op. cit., hlm. 226-228, yang dikutip dari Lontara’ Sukkukna ri Wajo.
[29] Mukhlis Paeni, dkk., Sejarah Kebudayaan Sulawesi, (Jakarta: Depdikbud, 1995), hlm. 90.
[30] Lihat: Pelras, “Religion,...” op. cit., hlm. 114-116; Abu Hamid, “Sistem Pendidikan op. cit., hlm. 337-338; Baca juga : H. T. Damste, “Islam en Sirihpoean te Bima (Soembawa) Atjehsche Invloden?, dalam BKI deel 100, KITLV, 1941, hlm. 65. Bandingkan: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur-Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 56-57; T. W. Arnold, The Preaching of The Muslim Faith, (London: Constable & Company Ltd., 1913), hlm. 391-396.
[31] Damste, op. cit., hlm. 55, 65. Tiro yang dimaksud di sini adalah kampung Bitaj di Aceh, bukan kampung Tiro di Bulukumba-Sulawesi Selatan.
[32] Periksa: Henri Chambert Loir, “Dato’ ri Bandang...” op. cit., hlm. 160. Lihat kembali: peng-Islaman Gowa-Tallo’ menurut versi kedua di atas.
[33] Lebih jelasnya tentang ketiga Dato’ tersebut, Baca: Chambert Loir, “Dato’ ri Bandang....” op. cit., hlm. 137-162.
[34] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II,  (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), hlm. 226. Baca juga: Perkembangannya di Sulawesi Selatan dan Relevansinya dengan Dakwah Islam di Ujung Pandang Dewasa Ini”, dalam Jurnal Alauddin (Jurnal Penelitian dan Informasi Sosial Keagamaan).  (Ujung Pandang: Pusat Penelitian IAIN Alauddin, 1997).
[35] Taufik Abdullah, “Islam dan Pembetukan Tradisi di Asia Tenggara: Sebuah Perspektif Perbandingan”, dalam Tradisi dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1989), hlm. 69.
[36] Andaya, op. cit., hlm. 35. Sebagai Bahan perbandingan baca: Robert Heine – Geldren,  Konsepsi Tentang Negara dan Raja di Asia Tenggara. (Jakarta: CV. Rajawali, 1982). Dalam upaya meningkatkan legitimasi dan aura kekuasaannya, para penguasa Muslim tidak hanya menggunakan gelar “Sultan”, tetapi juga mengklaim diri sebgai “Wakil” Tuhan (khalifah Allah). Azyumardi Azra, Renaisans Islam di Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: Rmaja Rosda Karya, 1999), hlm. 80.
[37] Daud Limbugau “Perjalanan Sejarah Kota Maritim Makassar Abad 19-20, dalam Mukhlis, Persepsi Sejarah Kawasan Pantai, (Ujung Pandang: P3MP UNHAS, 1989), hlm. 11-12. Baca juga: Abd. Latif, “Yang Menentang dan Yang Bersahabat Inggeris di Sulawesi Selatan 1812-1816”. (Yogyakarta: Tesis S-2 pada UGM), 1997. hlm. 26-50.
[38] G. Moedjanto, Konsep Kekuasaan Jawa Penerapannya oleh Raja-Raja Mataram, (Yogyakarta: Kanisius, 1987), hlm. 121-122; Menurut Fachry Ali, raja dalam hal ini, terutama di masa akhir Kerajaan Mataram, adalah pusat mikrokosmos kerajaan dan duduk di puncak hirarki status, karena mikrokosmos paralel dengan makrokosmos, Raja Jawa diidentifikasi dengan Dewa Wisnu, dan ratunya diidentifikasi dengan kesaktian dewa, sehingga orang Jawa percaya bahwa raja adalah satu-satunya medium yang mengubungkan dunia mikrokosmos dengan alam makrokosmos. Raja dianggap sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan, maka tidaklah kekuasaannya menjadi tak terbatas. Periksa: Fachry Ali, Refleksi Paham Kekuasaan Jawa dalam Indonesia Modern, (Jakarta: PT. Gramedia, 1986), hlm. 26-27; Baca juga: Selo Soemardjan, Perubahan Sosial di Yogyakarta, (Yogyakarta: Gama Press, 1983), hlm. 23; Soemarsaid Moertono, Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau Studi tentang Masa Mataram II Abad XVI Sampai XIX, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985), hlm. 32-61.
[39] H. A. Sutherland, “Political Structure And Colonial Control in South Sulawesi”, dalam Schefold R.J.W. Schoorl dan J. Tennekes, (ed.), Man Meaning and History, VKI 89, KITLV, 1980. hlm. 235-236; Mukhlis (ed.) Dinamika Bugis Makassar. (Ujung Pandang: PLPIIS dan YIIS, 1986). hlm. 14-15; Hamid Abdullah, Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press, 1985). hlm. 75-76; Ryadi Gunawan, “Reaktualisasi Bebagai Teks Kuno untuk Mengenal Politik Demokrasi Masyarakat Bugis-Makassar”, dalam Mohammad Najib, Demokrasi dalam Perspektif Budaya Nusantara, (Yogyakarta: LKPSM, 1996), hlm.58-61.  
[40] Hal ini adalah lumrah pada masa yang di dalamnya berlaku “cuius regio eius religio”, artinya “siapa yang punya negeri, dia punya agama”, maksudnya rakyat mesti memeluk agama rajanya. Th. Muller Kruger, op. cit., hlm. 20. Lihat juga, J. Noorduyn, “Sedjarah Agama Islam di Sulawesi-Selatan”, dalam W. B. Sidjabat, Panggilan Kita Dewasa Ini, (Djakarta: Badan Penerbit Kristen, 1964), hlm. 87.
[41] Mohammad Sobary, “Ujung Pandang 1994: Nahdatul Ulama dan Politik”, dalam Fenomena Dukun dalam Budaya Kita, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1997), op. cit., hlm. 207.
[42] Mukhlis Paeni, dkk., Sejarah Kebudayaan...., op. cit., hlm. 90.
[43] Pelras, “Religion....”, op. cit., hlm. 21.Lihat juga Chamber Loir, op. cit., hlm. 142.

Comments

  1. Assalamualaikum.
    sekedar menginfokan, Sayyid Jalaluddin Al-Aidid bermazhab Ahlu Sunnah Wal Jamaah (Syafi'i) sebagaimana Leluhurnya Sayyid Muhammad Shahib Aidid/ Maula Aidid dan Para Ba'alawy lainnya yang menganut Mazhab Ahlu Sunnah.

    ReplyDelete
  2. Thanks, buat bahan materi tambahan....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)