POLIGAMI DALAM TINJAUAN HUKUM ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN


 A.     Latar Belakang Masalah
Bagi sebagian muslimin khususnya muslimah, poligami mungkin masih menjadi momok yang menakutkan. Ketakutan itu bahkan bertambah menjadi sebuah kebencian sebab hawa nafsu, kisah-kisah kelam oknum juga propaganda orientalis seputar tema ini. Di sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa sebahagian ikhwan kita yang berpoligami belum benar-benar mempelajari secara mendalam, sehingga sangat disayangkan bahwa akhir dari semua itu sungguh jauh dari kebaikan yang diharapkan.

Tidak diragukan lagi, semua itu sebab jauhnya mereka dari ilmu tentang sunnah Rasulullah saw. Dan salah satu persoalan penting yang sering dijadikan tuduhan bahwa Islam menganiaya perempuan dan berpihak pada lelaki secara mutlak ialah masalah poligami, yakni diizinkannya lelaki mengumpulkan lebih dari satu istri. Dalam banyak kesempatan hujatan yang diarahkan pada syariat Islam melalui isu polgami dilakukan secara intensif dan terarah, sehingga memberi kesan bagi pendengar dan pembacanya seakan-akan lelaki muslim tidak berkepentingan dengan kehidupannya ini kecuali hanya mengoleksi dan bersenang-senang dengan wanita-wanita cantik.

Secara kodrati, tak ada yang salah dengan sikap istri yang ingin mengarungi biduk rumah tangga bersama suami tanpa madu. Tak salah pula bila istri sedari awal mengantisipasi kemungkinan yang tak diinginkannya itu.yang salah jika mereka benci terhadap syariat Allah dan para pelakunya. Sebab konsep polgami terdapat di dalam al-Qur’an, dipraktekkan rasul dan sebahagian sahabat, serta diakui kebolehannya oleh alim ulama. Fenomena poligami semakin marak akhir-akhir ini, terutama karena dipertontonkan secara vulgar oleh para tokoh panutan di kalangan birokrasi, politisi, seniman, dan bahkan agamawan. Poligami sesungguhnya merupakan akumulasi darisedikitnya tiga faktor: Pertama, lumpuhkan sistem hukum kita, khususnya Undang-Undang Perkawinan. Kedua, masih kentalnya budaya patriarki di masyarakat yang memandang istri hanyalah teman tidur, harus ikut apa mau suami dan tidak boleh menolak. Ketiga, kuatnya interprestasi agama yang biasa jender dan tidak okomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan.[1]

Data-data historis secara jelas menginformasikan bahwa ribuan tahun sebelum Islam turun di Jazirah Arab, masyarakat diberbaga belahan dunia telah mengenal dan bahkan secara luas mempraktekkan poligami sehingga pada masyarakat Arab yang terkenal jahiliyah. Poligami yang berlangsung saat itu tidak mengenal batas, baik dalam hal jumlah istri maupun syarat moralitas keadilan. Lalu Islam datang melakukan koreksi total secara radikal terhadap perilaku poligami yang tidak manusiawi itu. Koreksi Islam menyangkut dua hal: Pertama, membatasi jumlah istri hanya empat. Kedua, ini yang paling radikal untuk para istri. Perubahan drastis inilah yang apresiasi Robert Bellah, sosiolog terkenal asal Amerika sehingga menyebut Islam sebagai agama yang sangat modrn untuk ukuran masa itu, “it was modern to succed” komentarnya.[2]

B. Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permaslahannya adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan poligami?
2. Bagaimana tinjauan hukum Islam mengenai poligami?



BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Poligami
Kata-kata poligami terdiri dari kata “poli” dan “gami”. Secara etimologi, poli artinya “banyak” gami artinya “isteri”. Jadi poligami artinya beristri banyak. Secara terminologi, poligami yaitu “seorang laki-laki mempunyai isteri lebih dari satu.[3]

Poligami ialah mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu yang sama. Berpoligami atau menjalankan (melakukan) poligami sama dengan poligini yaitu mengawini beberapa wanita dalam waktu yang sama.

Drs. Sidi Ghazalba mengatakan bahwa Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari satu orang perempuan. Lawannya adalah poliandri, yaitu perkawinan antara seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki.


Sebenarnya istilah poligami itu mengandung pengertian poligini dan poliandri. Tetapi karena poligami lebih banyak dikenal terutama di Indonesia dan negara-negara yang memakai hukum Islam, maka tanggapan tentang poligini ialah poligami.Poligami, berarti sistem perkawinan yang salah satu pihak memiliki/mengawini beberapa lawan jenisnya dalam waktu bersamaan.[4] Melalui pendekatan epistemologi fiqih, maka dapat dipahami secara ibarah al-nae (mantuq) bahwasanya al-Qur’an merestui praktek poligami (ta’addud al-zaujah)[5] tanpa ada perselisihan pendapat dalam hal kebolehannya. Perselisihan pendapat ini nanti ramai dijumpai ketika fuqaha berbicara penetapan syarat kebolehannya. Ada ulama yang dinilai cenderung lebih longgar, ada yang lebih ketat dan ada yang moderat.[6] Namun poligamiyang dimaksudkan oleh penulis di sini adalah hanya terkonsentrasi kepada seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri dalam waktu yang bersamaan (lawan dari poliandri). Muhammad rasulullah pembawa risalah Islam hidup dan tumbuh di lingkungkungan tradisi poligami, tetapi justru memilih monogami. Rasul menikahi Siti Khadijah ketika berusia 25 tahun dan umat Islam perlu menyadari bahwa perkawinan Rasul yang monogami dan penuh kebahagiaan itu berlangsung selama 28 tahun, 17 tahun dijalani sebelum kerasulan (qabla bi’sah) dan 11 tahun sesudahnya (ba’da bi’sah). Kebahagiaan pasangan ini menjadi inspirasi dalam banyak do’a pengantin yang dilantunkan pada jutaan prosesi perkawinan umat Islam.


B. Tinjauan Hukum Islam Mengenai Poligami


Islam memandang poligami lebih banyak membawa resiko daripada manfaatnya, karena manusia itu menurut fitrahnya mempunyai watak cembutu, iri, dan suka mengeluh. Watak-watak tersebut akan mudah timbul dengan kadar tinggi, jika hidup dalam kehidupan keluarga yang poligamis. Dengan demikian poligami itu bisa menjadi sumber konflik dalam kehidupan keluarga, baik konflik antara suami dengan isteri-isteri dan anak-anak. Karena itu hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogamy, sebab dengan monogamy akan mudah menetralisasi sifat iri hati, cemburu dan lainnya.


Dalam surat Annisa ayat 2 dan 3. yang berbunyi:


(#qè?#uäur #yJ»tFuø9$# öNæhs9ºuqøBr& ( Ÿwur (#qä9£t7oKs? y]ŠÎ7sƒø:$# É=Íh©Ü9$$Î/ ( Ÿwur (#þqè=ä.ù's? öNçlm;ºuqøBr& #n<Î) öNä3Ï9ºuqøBr& 4 ¼çm¯RÎ) tb%x. $\/qãm #ZŽÎ6x. ÇËÈ   ÷bÎ)ur ÷LäêøÿÅz žwr& (#qäÜÅ¡ø)è? Îû 4uK»tGuø9$# (#qßsÅ3R$$sù $tB z>$sÛ Nä3s9 z`ÏiB Ïä!$|¡ÏiY9$# 4Óo_÷WtB y]»n=èOur yì»t/âur ( ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz žwr& (#qä9Ï÷ès? ¸oyÏnºuqsù ÷rr& $tB ôMs3n=tB öNä3ãY»yJ÷ƒr& 4 y7Ï9ºsŒ #oT÷Šr& žwr& (#qä9qãès? ÇÌÈ  

Terjemahnya:
Dan berikanlah kepada anak-anak yatim (yang sudah balig) harta mereka, jangan kamu menukar yang baik dengan yang buruk dan jangan kamu Makan harta mereka bersama hartamu. Sesungguhnya tindakan-tindakan (menukar dan memakan) itu, adalah dosa yang besar.
Dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.[7]

            Demikianlah yang ditetapkan oleh agama Islam. Akan tetapi Allah swt mengkhususkan sesuatu bagi RasulNya yang tidak diberikan kepada umatnya. Yaitu mengizinkan beliau mempertahankan isteri-isterinya yang telah dinikahi. Beliau tidak diwajibkan melepas meraka, tidak boleh mengganti isteri-isteri yang telah menjadi tanggungan beliau. Tidak boleh menambah lagi dan tidak boleh mengganti isteri dengan isteri yang baru. Mengenai itu Allah swt berfirman:
لَا يَحِلُّ لَكَ النِّسَاءُ مِنْ بَعْدُ وَلَا أَنْ تَبَدَّلَ بِهِنَّ مِنْ أَزْوَاجٍ وَلَوْ أَعْجَبَكَ حُسْنُهُنَّ [8]
Artinya:
“Engkau (hai Muhammad) tidak dihalalkan kawin lagi dengan perempuan lain sesudah itu, dan tidak boleh pula mengganti mereka dengan isteri-isteri baru, meskipun kecantikannya menarik hatimu.

            Hikmah yang tersirat dalam hal itu ialah, bahwa para isteri Nabi adalah wanita-wanita yang mempunyai kedudukan khusus dan kehormatan istimewa, sehingga al-Qur’an menamai mereka dengan Ummul Mukminin.[9]
Juga, surat An-nisa ayat 2-3, mengingatkan kepada para wali anak-anak yatim dan yang mengelola harta anak yatim bahwa mereka berdosa besar jika sampai menukar dan memakan harta anak yatim yang baik dengan yang jelek dan dengan jalan yang tidak sah, sedangkan ayat 3 mengingatkan kepada para wali anak wanita yatim yang mau mengawini anak wanita yatim tersebut agar si wali itu beritikad baik adil dan fair, yakni si wali wajib memberikan mahar dan hak-hak lainnya kepada anak wanita yang dikawininya dan ia tidak boleh mengawininya dengan maksud untuk memeras dan menguras harta anak yatim atau menghalang-halangi anak wanita yatim untuk kawin dengan orang lain.
Sesuai dengan nama surat ini maka masalah pokoknya adalah mengingatkan kepada orang yang berpoligami agar berbuat adil terhadap istri-istrinya dan berusaha memperkecil jumlah istrinya agar ia tidak berbuat zalim terhadap keluarganya.[10]
Pendapat lain ada yang mengatakan bahwa dalam ayat ini sebenarnya menganjurkan poligami terlebih dahulu baru kalau nantinya tidak bisa berlaku adil, boleh memilih satu istri saja, atau dalam artian lain dalam ayat ini beristri satu adalah pengecualian kalau seandainya tidak bisa beristri empat, tiga, atau dua.
و لن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولو حرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة ...(النساء: 129
Terjemahnya:
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung…"[11]

            Sedangkan hadits Nabi Muhammad saw,. tentang poligami:
حدثنا أحمد بن عبدالله بن يونس وقتيبة بن سعيد كلاهما عن الليث بن سعد قال ابن يونس حدثنا ليث حدثنا عبدالله بن عبيدالله بن أبي مليكة القرشي التيمي أن المسور بن مخرمة حدثه: أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم على المنبر وهو يقول إن بني هشام بن المغيرة استأذنوني أن ينكحوا ابنتهم علي بن أبي طالب فلا آذن لهم ثم لا آذن لهم ثم لا آذن لهم إلا أن يحب ابن أبي طالب أن يطلق ابنتي وينكح ابنتهم فإنما ابنتي بضعة مني يريبني ما رابها ويؤذيني ما آذاها [12]
Artinya:                                                                                                                                  
Dari Ahmad bin ‘Abdullah bin Yunus dan Qutaibah bin Sa’id dari Al-laits bin sa’d, Ibnu Yunus berkata dari Laits dari ‘Abdullah bin ‘Ubaidillah Ibnu Abi Mulaikah dari Miswar ibn Makhramah dia berkata, saya mendengarkan Rasulullah s.a.w. bersabda dari atas mimbar, "Sesungguhnya Bani Hisyam ibn Mughirah meminta izin untuk menikahkan putri mereka dengan Ali ibn Abu Thalib maka aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan, kemudian aku tidak mengizinkan. Kecuali putra Abu Thalib ingin menceraikan putriku dan menikah dengan putri mereka. Karena dia adalah darah dagingku, membuat aku sedih apa yang menyedihkannya dan menyakitiku apa yang menyakitinya.

Dilihat dari hadits di atas, dapat dimaknai, bahwa Rasulullah tidak mengharamkan segala apa yang telah Allah halalkan (poligami). Perlu digaris bawahi bahwa hadits ini pengecualian Nabi terhadap putrinya, Fathimah. karena sang ‘Ali bin Abi Thalib sebagai suami Fathimah terdesak untuk melakukan poligami, Nabi membolehkan Ali untuk berpoligami apabila dia berkehendak untuk menceraikan Fathimah. Setelah cerai, barulah dia menikah dengan anak Abu Jahal. Di kalimat terakhir Rasul juga memperingatkan bahwa “tidak berkumpul putri Rasulullah dan putri musuh Allah selama-lamanya”.
Adapun beberapa situasi yang mengkondisikan laki-laki untuk berpoligami:[13]  
1.        jika seorang laki-laki mempunyai istri yang berusia lanjut dan tidak bisa melayaninya lagi, padahal ia sangat memerlukan penerus dan faktanya ia mampu berbuat adil dan mampu mengurus anaknya.
2.        jika seorang laki-laki mempunyai istri yang mandul dan secara darurat istri memerlukan keturunan, maka maslahat baginya menikah lagi.
3.        jika seorang laki-laki tidak merasa cukup dengan seorang istri karena dorongan syahwatnya tinggi sementara pelayanan istri kurang maka lebih selamat jika ia berpoligami.
4.        jika seorang laki-laki mempunyai istri yang masa haidnya lama sampai 15 hari setiap bulannya, sementara ia tidak menunggu, maka jika ada jalan lain sebaiknnya ia menikah lagi.
5.        jika di satu negara penduduknya lebih banyak perempuan, misalnya diakibatkan perang, maka demi mencegah perzinaan, sebaiknya seorang laki-laki beristri lebih dari satu.
Dari uraian ini bisa diambil kesimpulan bahwa pada dasarnya Islam tidak menetapkan prinsip poligami ataupun monogami dalam perkawinan. Tapi Islam berorintasi pada pembinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera, dan bahagia dalam bingkai yang mawaddah, rahmah dan sakinah. Setiap pilihan ini baik poligami maupun monogami pastilah memiliki implikasi positif disamping membawa konsekuensi yang negatif. Adapun hikmah dari pada poligami itu sendiri adalah[14] :
1.         Untuk  mendapatkan  keturunan bagi suami yang subur dan istri yang mandul.
2.         Untuk menjaga keutuhan keluarga tanpa menceraikan istri, sekalipun istri tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai istri.
3.         Untuk menyelamatkan suami yang hypersex dari perbuatan zina dan krisis akhlak lainnya.
Juga, dalam pro kontra poligami, terdapat di dalamnya beberapa nilai positif, yaitu:
1.        Poligami menekan merajelanya prostitusi
2.        Poligami akan memungkinkan berjuta-juta wanita melaksanakan haknya akan kecintaan dan keibuan yang kalau tidak akan terpaksa hidup tanpa suami karena sistim monogami.
3.        Poligami akan mengurangi sebab-sebab drama perceraian yang tak terhitung banyaknya.
4.        Poligami akan memperbaiki jenis bangsa demi masa depan anak-anak yang baik, semua syah dan semua wanita akan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan gembira.
Di Indonesia masalah poligami diatur Undang-undang No: 1/1974 tentang Perkawinan. Peraturan Pemerintah RI No. 9/1975 tentang aturan Pelaksanaan Undang-Undang No. 1/1974. Bagi pegawai negri sipil, aturannya dipisahkan melalui peraturan pemerintah no. 10/1983 tentang izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negri Sipil. Adapun sebagai hukum materil bagi orang Islam, terdapat ketentuan dalam kompilasi hukum Islam (KHI).[15]

















BAB III
KESIMPULAN


1.                  Laki-laki boleh menikahi perempuan lebih dari satu orang, dengan syarat ia sanggup berbuat adil terhadap mereka dalam urusan belanja dan tempat tinggal serta lainnya yang bersifat kebendaan.
2.      Islam sebagai agama kemanusiaan yang luhur mewajibkannya kaum muslimin untuk melaksanakan pembangunan dan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Mereka tidak akan sanggup memikul tugas risalah pembangunan ini, kecuali bila mereka mempunyai negara yang kuat dalam segala bidang. Hal ini tidak akan dapat terwujud apabila jumlah penduduknya hanya sedikit, karena untuk tiap bidang kegiatan hidup manusia diperlukan jumlah yang cukup besar ahli-ahli yang menanganinya. Dan jalan untuk mendapatkan jumlah yang besar hanyalah dengan adanya perkawinan dalam usia subur atau alternatif lain dengan berpoligami.









DAFTAR PUSTAKA


Siti Musda Mulia. “Islam Menggugat Poligami”. Gramedia, 2006 http://irsanarietiaz.wordpress.com/2006/12/11/renungan-yang-bagus-mengenai-poligamiyang-lagi-trend/
Abd. Rahman Ghazaly. Fikih Munakahat. Jakarta: Kencana, 2006.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. ; Jakarta: Balai Pustaka, 1999.
Mustafa Sa’id al-Khin. Asru al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Usuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha. Cet. VII; Muassasah al-Risalah, 1417 H/1998 M.
Abu al-Fadl Syihabuddin al-Sayyid Mahmud al-Alusi, Ruh al-Ma’aniy, Jilid III. Dar al-Ihya al-Turats al-Arabiy: Beirut, 1985.
Malik ibn Anas. al-Muwatta’. Dar al-Fikr; Beirit, 1989.
Abu Yasid. Fiqih Realitas. Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.
Al Hamid Al-Husaini. Fatwa-Fatwa Mutakhir. Jakarta: Yayasan Al-Hamidiy, 1996.
Muhammad ‘Ali Assabuniy. ShafwatuTafasir. Beirut: Darul Fikr, 2001.
Abu Husain Muslim Bin Hajjaj Bin Muslim Al-Naisaburi. Al-Jami Al-Shahih. Beirut: Dar el-Fikr, t.th.
Rahmat Hakim. Hukum Perkawinan Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2000.



x
[1]Siti Musda Mulia, “Islam Menggugat Poligami”, Gramedia, 2006 http :// irsanarietiaz. wordpress. com/ 2006/ 12/11/renungan-yang-bagus-mengenai-poligamiyang- lagi-trend/
[2]Ibid.
[3]Abd. Rahman Ghazaly, Fikih Munakahat (Jakarta: Kencana, 2006), h. 129.
[4]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. ; Jakarta: Balai Pustaka, 1999), h. 779.
[5]Mustafa Sa’id al-Khin, Asru al-Ikhtilaf fi al-Qawa’id al-Usuliyyah fi Ikhtilaf al-Fuqaha, (Cet. VII; Muassasah al-Risalah, 1417 H/1998 M), h. 126.
[6]Ada tiga corak persepsi yang menyorot praktek poligami dari perspektif hukum Islam dengan berbagai metodologi ijtihad dan pendekatannya. Berikut pendapatnya dengan sekilas argumentasinya masing-masing:
Pertama, kelompok yang cenderung lebih longgar. Mereka memahami bahwa kawin dalam jumlah yang lebih dari empat itu masih tetap dibolehkan. Di antara argumentasi yang kemukakan adalah: Pertama, kalimat “al-Nisa” (perempuan) dalam ayat tersebut menunjukkan pemahaman bahwa bilangan yang banyak tanpa batas. Kedua, kalimat “masna” (dua-dua), sulasah (tiga-tiga), dan ruba’ (empat-empat) tidak cukup untuk dijadikan alasan membatasi poligami hanya kepada empat orang istri saja, sementara kalimat al-Nisa tergolong kalimat jamak yang tidak dibatasi jumlah bilangannya secara eksplisit dalam konteks pembicaraan QS. al-Nisa (4): 3. Ketiga, huruf () di situ mengindikasikan makna penjumlahan sehingga kawin sampai sembilan (2+3+4), dan bahkan 18 (2+2+3+3+4+4) pun dipandang sah-sah saja. Keempat, pendapat ini diperkuat adanya sejumlah dalil yang memerintahkan untuk mencontoh segala yang dipraktekkan oleh Nabi saw., lihat Abu al-Fadl Syihabuddin al-Sayyid Mahmud al-Alusi, Ruh al-Ma’aniy, Jilid III (Dar al-Ihya al-Turats al-Arabiy: Beirut, 1985), h. 192.
Kedua, kelompok ini membatasi kebolehan berpoligami dengan hanya maksimal empat orang istri. Di antara argumentasi yang dikemukakan oleh kelompok ini adalah kasus seorang sahabat yang bernama Ghailan. Ketika masuk Islam ia memiliki 10 orang istri lalu Nabi saw., memerintahkan supaya Ghailan memilih empat dari sepuluh istrinya dan menalak selebihnya. Lihat Malik ibn Anas, al-Muwatta’ (Dar al-Fikr; Beirit, 1989), h. 375.
Ketiga, kelompok ini juga sebenarnya sepakat kalau poligami itu boleh selagi mampu untuk memenuhi persyaratan yang ditawarkan oleh al-Qur’an, namun, menurut kelompok ini persyaratan tersebut sangat sulit untuk dapat disanggupi oleh laki-laki masa ini. Satu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa setiap orang normal pasti memiliki kecenderungan seksual lebih tinggi kepada kaum muda. Naluri inilah yang sangat sulit dihindari oleh suami yang berpoligami sehingga keadilanpun menjadi sangat sulit tercipta di kalangan keluarga poligaminya. Dengan demikian, pintu kebolehan untuk berpoligami juga menjadi sangat sulit untuk dinyatakan terbuka. Lihat, H. Abu Yasid, Fiqih Realitas, (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), h. 346.
[7]Departemen Agama RI., Al-Qur'an dan Terjemahnya (Semarang: Toha Putra, 1989), h. 67.
[8]Ibid., h. 70.
[9]Al Hamid Al-Husaini, Fatwa-Fatwa Mutakhir (Jakarta: Yayasan Al-Hamidiy, 1996), h. 687.
[10]Muhammad ‘Ali Assabuniy, ShafwatuTafasir (Beirut: Darul Fikr, 2001), h. 236.
[11]Departemen Agama RI., op.cit., h. 72.
[12]Abu Husain Muslim Bin Hajjaj Bin Muslim Al-Naisaburi, Al-Jami Al-Shahih, (Beirut: Dar el-Fikr, t.th), h. 1902.
[13]Abd. Rahman Ghazaly, op.cit., h. 135.
[14]Ibid., h. 136.                                                                    
[15]Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2000), h. 121.

Comments

Popular posts from this blog

صِفَة-مَوْصُوْف SIFAT – MAUSHUF (Sifat dan Yang Disifati)

ISIM-ISIM YANG DINASHABKAN

HUBUNGAN KRISTEN DAN ISLAM (Periode Pertengahan dan Modern)